<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress.com" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>eskatologi &amp;laquo; WordPress.com Tag Feed</title>
	<link>http://wordpress.com/tag/eskatologi/</link>
	<description>Feed of posts on WordPress.com tagged "eskatologi"</description>
	<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 17:07:14 +0000</pubDate>

	<generator>http://wordpress.com/tags/</generator>
	<language>en</language>

<item>
<title><![CDATA[1 Sam 14:44-46 Raja Saul tidak dapat diandalkan]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/08/22/1-sam-1444-46-raja-saul-tidak-dapat-diandalkan/</link>
<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 13:07:25 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/08/22/1-sam-1444-46-raja-saul-tidak-dapat-diandalkan/</guid>
<description><![CDATA[Israel dipilih Allah untuk mewakili bangsa-bangsa sebagai &#8220;kerajaan imam&#8221; (Kel 19:6) sup]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Israel dipilih Allah untuk mewakili bangsa-bangsa sebagai "kerajaan imam" (Kel 19:6) supaya janji berkat bagi bangsa-bangsa terwujud (bnd. Kej 12:2-3). Namun, dalam kenyataan Israel menjadi wakil manusia dalam artian yang lain, yakni sebagai pendosa. Terus-menerus Israel bersungut-sungut, tidak percaya dan memberontak. Permintaan untuk memiliki raja adalah bagian dari pola itu. Mereka ingin menjadi seperti bangsa-bangsa yang lain daripada bangsa yang kudus, dengan demikian menolak Allah (1 Sam 8:5-7).</p>
<p>Dalam pp.13-15 Saul tergambar sebagai raja yang tidak tegas, yang cepat mengalah jika rakyat mendesak. Dalam pp.13, 15 sifat itu bermuara pada ketidaktaatan kepada Allah. Dalam p.14 kegelisahan Saul ketika Israel terdesak dalam perang ditanggapi dengan kutuk yang bodoh. Dia tiba-tiba mau tegas pada awal nas kita, tetapi sekali lagi menyerah terhadap permintaan rakyat yang kali ini tepat. Kebodohan dan kelemahannya bercampur di sini. Saul sebagai raja ternyata satu watak dengan umat Israel. Meskipun dia diberkati Tuhan dalam perang (14:47-48), akhirnya dia ditolak Tuhan (p.15).</p>
<p>Sebaliknya, Yonatan adalah pemimpin yang berani dan mengandalkan Tuhan, seperti Daud yang menjadi sahabatnya. Namun, Daud juga jatuh ke dalam dosa, dan Salomo yang mengikutinya. Dalam cerita Alkitab secara keseluruhan, hanya satu yang menjadi orang Israel yang setia dan raja yang sejati, yakni Yesus Kristus.</p>
<p>Tentu melalui contoh buruk Saul dan teladan Yonatan kita dapat belajar tentang kepemimpinan yang semestinya dan menerapkannya kepada pemerintah dan gereja sekarang. Soalnya, kalau sekadar itu penerapannya, bukankah kita akan tenggelam dalam kekecewaan? Kalau seandainya koruptor diganti dengan orang yang lebih baik, toh orang itu juga terbatas. Kekurangan Israel terjawab bukan dengan negeri Indonesia (ataupun AS!) melainkan dengan Kerajaan Allah yang didatangkan oleh Yesus. Konsep kerajaan Allah bukan sekadar kiasan untuk pengalaman religius. Kristus yang bangkit dan diangkat ke sorga adalah Raja yang harus kita taati dan andalkan di atas pemerintah manusia. Dalam keberanian dan pengorbanan Dia seperti Yonatan dan Daud, malah lebih dari mereka karena Dia telah mengalahkan Iblis, dosa dan maut. Jika Dia adalah raja kita, mungkin saja kita akan berani seperti bujang Yonatan untuk ikut dalam perjuangan terhadap hal-hal yang melawan Allah meskipun perjuangan itu secara manusiawi tidak memiliki harapan (14:7).</p>
<p>Selamat berjuang!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mzm 111 Pujilah Allah karena pemberian keselamatan!]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/08/14/mzm-111-pujilah-allah-karena-pemberian-keselamatan/</link>
<pubDate>Wed, 13 Aug 2008 23:40:59 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/08/14/mzm-111-pujilah-allah-karena-pemberian-keselamatan/</guid>
<description><![CDATA[Salah satu alasan mendasar untuk Israel memuji Allah ialah perjanjian dengan Allah (111:5, 9). Mazmu]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu alasan mendasar untuk Israel memuji Allah ialah perjanjian dengan Allah (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Maz/T_Maz111.htm#111:111">111</a>:5, 9). <a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/08/10/11-mazmur-syukur-pujian-hikmat/">Mazmur pujian</a> ini menceritakan dua segi dari berkat perjanjian-Nya, yakni perbuatan keselamatan-Nya (pemilikan tanah dalam a.6b, penebusan dari Mesir dalam a.9a) dan penyataan-Nya (aa.7b-8). Respons umat mulai dan berakhir dengan pujian (aa.1, 10c) serta menyelidiki perbuatan Allah dan menjadikannya dasar untuk takut akan Allah (aa.2-5, a.10).</p>
<p>Tentu, kita yang percaya kepada Kristus melihat perbuatan keselamatan dan penyataan Allah terpusat dalam Kristus dan karya-Nya. Milik pusaka kita adalah langit dan bumi yang baru (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Wah/T_Wah21.htm#21:1">Why 21</a>:1) yang menjadi pusat bangsa-bangsa (Why 21:24-26). Pada hari kemerdekaan Indonesia, kita bersyukur bahwa sebagai <em>tomentiruran</em> (pendatang) kita boleh menumpang di negeri ini untuk menyatakan perbuatan dan penyataan Allah yang ajaib!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Why 2:12-17 Yesus memakai pedang]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/07/16/why-212-17-yesus-memakai-pedang/</link>
<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 12:28:00 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/07/16/why-212-17-yesus-memakai-pedang/</guid>
<description><![CDATA[Dalam perikop ini Yesus menyampaikan alasan berganda untuk kembali setia kepada-Nya, yakni ancaman p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam perikop ini Yesus menyampaikan alasan berganda untuk kembali setia kepada-Nya, yakni ancaman pedang (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Wah/T_Wah2.htm#2:16" title="Aku akan memerangi mereka dengan pedang">a.16</a>) dan janji berkat (a.17). Cocokkah gambaran ini dengan Injil anugerah?</p>
<p>Yang pertama, kitab Wahyu memang didasarkan pada Injil. Dalam 1:5-6 Yesus adalah Saksi yang setia yang mengasihi kita dan melepaskan kita dari dosa oleh darah-Nya, sekaligus yang pertama bangkit dan menjadi penguasa atas raja-raja. Penglihatan Yesus dalam 1:9-21 menjadi dasar untuk ketujuh surat kepada jemaat, dan banyak lagi dalam kitab ini. Kemudian, seluruh kitab memuncak pada gambaran tentang langit dan bumi yang baru yang menjadi pusat harapan. Jadi, Kristus ada di pusat kitab ini, dan kematian, kebangkitan dan kedatangan-Nya kembali menjadi kerangka yang mendasarinya.</p>
<p>Kerangka Injil itu yang mengilhami perikop ini. Pedang yang dipakai Yesus keluar dari mulut-Nya (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Wah/T_Wah1.htm#1:16" title="dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua">1:16</a>), sama seperti Hamba Tuhan dalam <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes49.htm#49:2" title="Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam">Yes 49:2</a>. Maksudnya, pedang yang akan menghukum dalam a.16 itu Firman Kristus. Ancaman hukuman itu disampaikan karena jemaat yang setia (a.13) terancam oleh ajaran palsu (aa.14-15). Kemungkinan Nikolaus adalah terjemahan dari Bileam (kedua-duanya berarti mengalahkan umat), dan a.14 memberi gambaran tentang gerakan Nikolaus/Bileam itu. Israel yang dilindungi Allah dari ancaman kutuk Bileam tergiur oleh perempuan Moab untuk menyembah berhala dan berbuat zinah (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Bil/T_Bil24.htm#24:25">Bilangan 24-25</a>). Jadi, gerakan Nikolaus barangkali mengajak jemaat untuk berkompromi dengan budaya setempat, khususnya dalam hal mengikuti acara berhala yang kadangkala disertai percabulan. Jemaat yang kokoh ketika dianiaya—sampai ada anggota dibunuh (a.13)—terancam dirongrong dari dalam karena tidak tegas terhadap gerakan kompromi ini. Firman Kristus siap untuk menghukum mati kaum yang mengancam itu. Perhatikan bahwa jemaat ("engkau") harus bertobat, tetapi Dia datang untuk memerangi "mereka" yang menyesatkan.</p>
<p>Kemudian, janji yang disampaikan dalam a.17 menyangkut Injil. Manna yang tersembunyi adalah Kristus sendiri (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yoh/T_Yoh6.htm#6:35" title="Akulah roti hidup">Yoh 6:35</a>), sebagai ganti makanan berhala yang disediakan pada upacara-upacara pemberhalaan. Batu putih mungkin merujuk pada warna batu yang dipakai dalam pengadilan untuk menyatakan terdakwa tidak bersalah. Nama yang baru merujuk dalam Yes 65:15 pada identitas yang baru dari orang yang setia kepada Allah. Yang dijanjikan adalah hidup dalam Allah, dan itulah yang terancam oleh gerakan tadi. Ancaman itu mau melindungi anugerah Allah yang sudah dipegang jemaat.</p>
<p>Kristus tetap mau memerangi hal-hal yang mengancam kesetiaan jemaat sekarang. Di Indonesia makin banyak kesempatan untuk bertahan di bawah penganiayaan, tetapi juga makin banyak orang yang tergiur oleh budaya gengsi yang mengutamakan pemilikan barang dan menghalalkan KKN. Jemaat sekarang perlu memasang telinga yang mendengar a.17 sebagai janji Injil yang lebih manis dari semua itu.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Spökhistorier]]></title>
<link>http://enbris.wordpress.com/?p=202</link>
<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 20:53:51 +0000</pubDate>
<dc:creator>iammany</dc:creator>
<guid>http://enbris.wordpress.com/?p=202</guid>
<description><![CDATA[Akt I: ”Ett spöke hemsöker Europa”
De där första orden, så ofta förbisedda, i Det kommunis]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Akt I: ”Ett spöke hemsöker Europa”</strong></p>
<p>De där första orden, så ofta förbisedda, i <em>Det kommunistiska partiets manifest</em> – ”Ett spöke går runt Europa – kommunismens spöke” – säger kanske mer om kommunismen än vad Karl Marx vid tillfället ämnade. Ett spöke hemsöker alla det gamla Europas makter som ”har förbundit sig till en helig hetsjakt mot detta spöke.” De väldiga arméer av proletärer som hotade det gamla Europa verkar dock sitta bekvämt nu. Inga hot om att storma de besuttnas palats längre. Eller? Hur kommer det sig då att den heliga hetsjakten fortfarande pågår?</p>
<p>Jacques Derridas säregna Marxkommentar – lägligt publicerad inte långt efter att ”Historiens slut” hade proklamerats – <em>Marx spöken</em>, kastar ljus över detta fenomen ”kommunismen som spöke”. Historien, visade det sig, var inte så lätt att göra sig av med. Det förflutna kommer ständigt åter för att hemsöka det nuvarande. Kapitalismens fanbärare trodde att dem blivit av med spöket när den ryska björnen kollapsade. Tji fick dem, säger vi. Vi som fortfarande strävar efter den gemenskap som oundvikligen är knuten till ordet ”kommunism”.</p>
<p>Kapitalismen skapar sina egna dödgrävare, sa Marx. Vi kan lämna Marx profetior åt sidan för nu, men vad som kvarstår är att kapitalismen inte blir av med spöket därför att det är beroende av den historiska kraft, den som vi kallar arbetarklassen, som ständigt åkallar spöket. Arbetarrörelsen och dess ställföreträdare må vara döda (och det är inget vi sörjer), men arbetarklassen (även om den går under allt för många namn idag) var inte lika lätt att bli av med, helt enkelt därför att kapitalet inte klarade sig utan arbetet.</p>
<p>Vi sjunger inte i kör längre eller marscherar i takt (tack och lov), men vi kan fortfarande säga: ”Ett spöke hemsöker Europa…”</p>
<p><strong>Akt II: Helige Max</strong></p>
<p>Marx hade sina egna spöken. Han gillade dem inte och försökte förgäves fördriva dem. Det är därför lustigt att han åkallar spöket i manifestets sidor efter att två år tidigare i <em>Den tyska ideologin</em> ha angripigt sin kollega bland Die Freien, Max Stirner, för att ha fallit offer för spöken. Stirner spökar för Marx. Stirner talade om spökena innan Marx gjorde det. ”Han har bedrivit <em>tjuvjakt</em> på Marx spöken.” Helt oacceptabelt för Marx givetvis. Därför måste han angripa Stirner, ”någon som nästan liknar honom till förväxling: en bror, en dubbelgångare, alltså en diabolisk bild. En slags vålnad av honom själv.” (s. 202) Stirners fel, enligt Marx, är att han förråder fadern, Hegel, men på fel sätt. Det rör sig om att ”världen för Hegel inte bara var förandligad, utan också av-förandligad” (s. 181) – det vill säga, han har missat det nödvändiga, bestämmelsen. I slutändan, menar Marx, förstör Stirner bara representationerna i deras representationsformer. Det finns inga spöken utan kropp, eller ett sken av en kropp. Trolla bort spökena och kropparna finns kvar.</p>
<p>Men just som vi trodde att dispyten mellan bröderna var över förbluffas vi av något märkligt. Det tycks som att Stirner har kapitulerat. Kroppens ego är alltid ”bebodd och invaderad av <em>sitt eget spöke</em>.” (s. 194) Stirner förbluffas inte längre över ”att hädanefter bara finna ett spöke i sig själv.” (s. 195) Det är som om Stirner återvänder till Marx för att säga: ”Käre bror! Du kan inte fördriva dem alla. Lyssna till dem, vad säger dem?”</p>
<p><strong>Akt III: Kapitalets spektrologi</strong></p>
<p>År senare lyssnar Marx. Han hör inget men börjar se. Gengångare, vålnader… Hade kapitalet sina egna spöken? Men varför talade dem inte? Kapitalet hade onekligen också en ”fantomeffekt”, och han fann den i varufetischismens mystiska karaktär. Vid det tillfälle som bordet började dansa – för att som Derrida låna ett exempel från <em>Kapitalet</em> – visade det sig att ”[t]inget är varken dött eller levande, det är dött och i livet på samma gång. Det har ett efterliv. Utspekulerad, uppfinningsrik och samtidigt mekanisk, sinnrik och oberäknelig: denna krigsmaskin är en teatermaskin, en <em>mekhane</em>.” (s. 221) Ett väldigt skådespel utspelar sig, så totalt och genomgripande att människorna inte längre känner igen den sociala karaktären i deras eget arbete.</p>
<blockquote><p>”Det »specifika» hos spökena, liksom hos vampyrer, är att de saknar en spegelbild, den sanna, goda spegelbilden (men vem saknar inte den?). På vad känner man igen en vålnad? På det att den inte känner igen sig själv i en spegel. Detta är också det som sker genom varornas <em>kommers</em> med varandra. Dessa vålnader som handelsvarorna är omvandlar de mänskliga producenterna till vålnader. Och hela denna teaterprocess (visuell, teoretisk, men också optisk, <em>optikal</em>) inför en mystisk spegeleffekt: om inte spegeln återkastar den rätta spegelbilden, om den alltså fantomaliserar, är det först och främst eftersom den naturaliserar. Det »mystiska» hos varuformen som spegelbild beror av den sociala formen, det är det otroliga sätt på vilket denna spegel återkastar bilden, när man tror att den för människorna reflekterar »deras arbetes sociala karaktär»: en sådan »bild» objektiverar genom att naturalisera. Därigenom visar den genom att dölja, och det är dess sanning, den återspeglar dessa egenskaper som »objektiva» egenskaper direkt inskrivna i arbetsprodukten, som »dessa tings naturliga sociala egenskaper». Från det ögonblicket – och här kan man se att kommersen mellan varor inte låter vänta på sig – blir den återkastade bilden (deformerad, objektiverad, naturaliserad) en bild av en social förbindelse mellan varor, mellan dessa inspirerade, autonoma och automatiska »föremål» som de dansande borden är. Det spekulära blir det spektrala just på tröskeln till denna objektiverande naturalisering: »Därmed återspeglas också producenternas samhälleliga förhållande till totalarbetet som ett samhälleligt förhållande mellan ting, som existerar utanför dem själva. Genom denna <em>quid pro quo</em> blir arbetsprodukterna varor, dvs. Ting med övernaturliga eller samhälleliga egenskaper».” (ss 224-225; Derrida citerar <em>Kapitalet</em> ss 248-249)</p></blockquote>
<p>Men varför hör inte Marx någonting? Är skådespelet stumt; ett mimspel? Varuproduktionen åstadkommer något alldeles unikt; den inför en gräns, en ständigt expanderande gräns som omsluter allting i sin väg, i vilken den totala cirkulationen V-P-V vecklar ut en »serie utan varken början eller slut» (Marx). Kapitalet omsluter allt, blir en totalitet, och dess apologeter deklarerar Historiens slut.</p>
<p><strong>Akt IV: Det messianska spåret</strong></p>
<p>Vad apologeterna dock inte kunde bli av med var orättvisorna, klyftorna och förtrycken. De utnyttjade, uteslutna, förtryckta spökade fortfarande.</p>
<p>Det är lätt att se Marx som en bärare av en messiansk-eskatologisk tradition, kanske som en arvtagare av självaste Paulus. Det är en anda Derrida försöker vara trogen. Han formulerar det ”messianska utan messiansm”, utan religion, och är i den meningen också trogen Marx ateistiska anda. Det messianska är här ett löfte om det kommande. Derrida insisterar emellertid på att behålla det kommande som öppet, utan slut. Det är väsentligt för Derridas förståelse av Rättvisan. Det är samtidigt en stängning mot det eskatologiska momentet hos Marx och även Walter Benjamin, som influerat Derrida betydligt. Derrida vill bidra till den Nya Internationalen i tjänst för Rättvisan, ett ändlöst projekt. Vilket är nobelt såklart, men säger oss ingenting om <em>slutet</em> för det kapitalistiska produktionssättet.</p>
<p>Derridas ledmotiv är repliken ”The time is out of joint” från Shakespears Hamlet (som Marx också var särskilt förtjust i), vilket inte bara kännetecknar livet under kapitalismen utan är också förutsättningen för idén om Rättvisan. Föreställningen om en slutgiltig lösning kommer med risken att Rättvisan blir en regulativ idé som världen skall rättas efter. Det är i Derridas ögon tyranni och han vill bekämpa den, och med all rätt. Men om vi tar Benjamin på orden och läser det messianska inte som mål utan slut kan vi se det i ett annat ljus. ”Först Messias själv fullbordar allt historiskt skeende”, hävdar Benjamin, och fortsätter:</p>
<blockquote><p>”Därför kan ingenting som hör historien till av egen kraft sträva efter en relation till det messianska. Därför är Guds rike inte telos för den historiska dynamis; det kan inte uppställas som mål. Historiskt sett är det inte mål, utan slut.” (”Teologisk-politiskt fragment”, i <em>Bild och dialektik</em>)</p></blockquote>
<p>Innebär en sådan läsning av Benjamin <em>mot</em> Derrida att Rättvisan överges? Inte nödvändigtvis, för det etiska ansvaret inför den Andre består. Men det inverkar på vår politik som inte kan vara uppbygglig utan blir nihilistisk. Urledvridningen kommer inte vridas tillbaka eller rätas ut. Tvärtom måste förfallet (nihilismen) påskyndas. ”Att sträva mot detta … är uppgiften för den världspolitik vars metod måste betecknas som nihilism.”</p>
<p><strong>Akt V: Marx som skräckförfattare</strong></p>
<p>Vålnader, spöken, gengångare, vampyrer, ting som får liv… Marx författarskap är fullt av dessa varelser. Den världsbild som tecknas i <em>Kapitalet</em> är mörk och mardrömslik, likt en zombiefilm där vi knappt vet vilka som är hjältar eller vilka som är de riktiga monstren. Marx var sparsam med sina visioner om en verklighet efter kapitalismen. Världen verkar stängd, och värst av allt tycks den vara cyklisk, som om de identiska uppföljarna aldrig tog slut.</p>
<p>Kapitalets monstruositet lever av och i kroppar, verkliga kroppar. Vi vet, tack vare Marx geni, att det i själva verket är <em>våra</em> kroppar som utgör kapitalets monstruösa kött, och att vi nu blivit parasiter på denna kropp (utan organ). Även om vi skulle förmå att äta livet ur kapitalets kropp, skulle vi kunna överleva utan den? Om inte, kan vi skapa nytt liv?</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Yes 1:10-20 Mengapa menjemukan Allah?]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/07/11/yes-110-20-mengapa-menjemuhkan-allah/</link>
<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 10:39:24 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/07/11/yes-110-20-mengapa-menjemuhkan-allah/</guid>
<description><![CDATA[Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil pemburuannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya ber]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pernah ada anjing yang dengan bangga membawa hasil pemburuannya kepada pemiliknya. Jika hasilnya berupa tikus yang mati belum tentu pemiliknya senang! Namun, maklum itu anjing. Lebih sulit diterima adalah pasangan yang membeli kado bagi pasangannya untuk menutupi perselingkuhan. Kado itu akan memperparah keadaannya daripada memulihkannya. Demikianlah ibadah Israel pada masa nabi Yesaya. Persembahan dan perayaan mereka tidak mengelabui Tuhan mengenai keadaan mereka yang sebenarnya.</p>
<p><!--more-->
<p>Dalam Yes <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes1.htm#1:2" title="Dengarlah, hai langit...">1:2</a>-2:4 pesan seluruh kitab Yesaya disampaikan secara ringkas. Pesan itu dimulai dengan sebuah peringatan. Yes 1:2-9 merujuk pada sebuah peristiwa (kemungkinan penyerangan Sanherib pada tahun 701sM yang diceritakan dalam <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes36.htm#36:1" title="Yerusalem dikepung Sanherib tetapi luput">pp.36-37</a>) di mana Yerusalem nyaris hancur. Nasib Yerusalem hampir seperti Sodom dan Gomora (a.9), dan aa.10-20 menasihati umat Israel yang sifatnya ternyata sama dengan Sodom dan Gomora (a.10). Kemudian, rencana Allah disampaikan, yakni pemurnian Sion melalui hukuman (aa.21-31) sampai terwujudlah keadaan baru (keselamatan eskatologis) yang digambbarkan dalam 2:1-4. Keselamatan itu yang menjadi alasan untuk bertobat (2:5).</p>
<p>Jadi, perikop 1:10-20 mau menyadarkan Israel akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Aa.11-14 menyebutkan dosa Israel sedikit, tetapi yang disoroti ialah tanggapan Allah. Allah jemu dan tidak suka (a.11), jijik (a.13), benci dan payah (a.14) akan persembahan dan perayaan mereka. Mereka sepertinya rajin beragama, tetapi hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Justru sebaliknya, dengan menghadap kepada Allah dalam ritus, mereka membawa kejahatan mereka ke dalam hadirat-Nya. Oleh karena itu, <a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/06/13/8-nubuatan-hukuman/">hukuman</a> Allah dinyatakan dalam a.15, yakni memalingkan muka-Nya.</p>
<p>Bagaimana semestinya respons Israel terhadap pernyataan sikap Allah itu? Aa.16-17 berbicara tentang pertobatan, mulai dengan yang paling umum sampai yang lebih konkret. Yang paling umum adalah perlunya Israel menjadi bersih. Hal itu secara prinsip berarti menjauhkan kejahatan dan memegang kebaikan. Secara konkret, keadilan yang paling hilang dalam masyarakat mereka, terutama dalam perlakuan terhadap yang tidak berdaya (yatim dan janda).</p>
<p>Pertobatan itu diteguhkan dengan janji dan akibat. Janji itu adalah janji anugerah: tangan mereka yang ternoda merah karena darah kekerasan dapat menjadi bersih (a.18). Janji yang mengejutkan itu merujuk pada karya Allah dalam memurnikan Sion (aa.25, 27), yang dalam keseluruhan kitab Yesaya dilaksanakan oleh Hamba Tuhan (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes40.htm#40:1">pp.40-55</a>, khususnya <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes53.htm#53:1">p.53</a>). Janji itu menunjukkan bahwa masih ada kesempatan, bukannya sudah terlambat. Kemudian akibatnya disampaikan dalam aa.19-20. Berkat perjanjian Allah dengan Israel (bnd. <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Ula/T_Ula28.htm#28:1" title="Jika engkau baik-baik mendengarkan…segala berkat ini akan datang">Ul 28:1-14</a>) diwakili oleh memakan hasil baik dari negeri perjanjian (a.19), sedangkan kutuk perjanjian (bnd. <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Ula/T_Ula28.htm#28:14" title="Tetapi jika engkau tidak mendengarkan…maka segala kutuk ini akan datang">Ul 28:14dst</a>) diwakili oleh dimakan pedang (a.20). Dalam konteks Yes 1:2-2:4, yang bertobatlah yang mengambil bagian dalam keselamatan eskatologis (2:1-4).</p>
<p>Apakah dengan menyandang embel-embel kristiani seperti beribadah di gedung gereja dsb Allah tidak lagi jijik terhadap kemunafikan karena dalam Kristus Dia menjadi Mahapengertian? Justru sebaliknya, anugerah Allah yang berlimpah-limpah dalam Kristus menjadikan kemunafikan jemaat lebih menjijikkan lagi. Pesan Yesaya itu tetap relevan. Syukuran atas hasil korupsi, pencarian kedudukan sebagai majelis karena gengsi, ketidakadilan dalam jemaat, semuanya tidak disukai Allah, menjemukan-Nya. Hal itu semestinya berarti sebagai alasan untuk berbalik dari hal-hal demikian.</p>
<p>Syukur bahwa pembasuhan yang manjur tersedia dalam Kristus—asal kita siap "menurut dan mau mendengar". Memang, akibatnya belum tentu persis seperti aa.19-20. Berkat Allah yang dijanjikan untuk jemaat dalam Kristus adalah Roh Kudus (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Gal/T_Gal3.htm#3:14" title="supaya di dalam Kristus berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh">Gal 3:14</a>), termasuk buah-Nya seperti kasih, sukacita, damai dsb. Itulah yang hilang dalam jemaat yang tenggelam dalam kemunafikan. Tetapi dalam konteks lebih luas, jemaat yang munafik kehilangan keselamatan eskatologis. Kalau kita tidak peduli menjemukan Allah, mungkin hanya ancaman begitu yang dapat menerobos kedegilan hati kita!</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kej 35:1-15 Menyembah Allah]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/07/03/kej-351-15-menyembah-allah/</link>
<pubDate>Thu, 03 Jul 2008 13:28:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/07/03/kej-351-15-menyembah-allah/</guid>
<description><![CDATA[Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Alla]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awal perikop ini, Yakub telah melalui pergumulan dengan kakaknya Esau, sesuai dengan janji Allah yang dulu-dulu itu di Betel (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kej/T_Kej28.htm#28:15" title="Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini">Kej 28:15</a>). Namun, dia belum sampai kembali kepada ayahnya (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kej/T_Kej28.htm#28:21" title="sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku">Kej 28:21</a>) ketika keluarga perjanjian terancam lagi saking kecerobohan Simeon dan Lewi (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kej/T_Kej34.htm#34:30" title="apabila mereka bersukutu melawan kita...kita akan dipunahkan">34:30</a>). Degan Yakub dan seisi rumahnya menghadapi musibah, Allah sekali lagi menampakkan diri.</p>
<p>Dia memanggil Yakub sekeluarga untuk pergi ke Betel dan menyembah-Nya di sana (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kej/T_Kej35.htm#35:1" title="1">a.1</a>). Kali ini Allah tidak langsung menjanjikan perlindungan, Dia mengingatkan Yakub akan masalah Esau yang sudah dilalui dengan aman. Panggilan itu disampaikan Yakub kepada keluarga dengan satu perbedaan (a.3), yaitu Yakub langsung bersaksi tentang perlindungan Allah. Kesaksian itu menjadi alasan yang disampaikan Yakub untuk mereka meninggalkan dewa-dewa yang lain dan menahirkan diri. Dan memang Allah tetap menyertai dan melindungi mereka (a.5). Demikianlah ancaman itu diselesaikan.</p>
<p>Setelah mereka diam di Betel, Allah berfirman kembali kepada Yakub. Seperti Adam dan Hawa di taman Eden, Yakub dipanggil untuk bertambah banyak di tanah perjanjian (aa.11-12). Yakub kemudian membangun simbol akan hadirat Tuhan di sana. Dengan demikian Israel dipanggil untuk mendirikan kembali kerajaan Allah yang hilang ketika manusia berdosa.</p>
<p>Perikop ini menunjukkan bagaimana akhirnya melalui banyak pergumulan Yakub menjadi layak sebagai orang yang dipanggil Tuhan. Kita melihat kembali kesabaran Allah yang melindungi umat-Nya sambil menyempurnakannya. Untuk kita umat PB, perlindungan Allah sudah dibuktikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan hadirat-nya kita kenal melalui Roh Kudus sambil menantikan penggenapan janji langit dan bumi yang baru. Maka kita memiliki alasan yang lebih kuat lagi untuk meninggalkan berhala-berhala dan menyembah Allah saja.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[9. Nubuatan keselamatan]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/06/20/9-nubuatan-keselamatan/</link>
<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 07:21:18 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/06/20/9-nubuatan-keselamatan/</guid>
<description><![CDATA[Nubuatan keselamatan membawa kita untuk mengarahkan kehidupan kita berdasarkan kebangkitan Kristus. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Nubuatan keselamatan membawa kita untuk mengarahkan kehidupan kita berdasarkan kebangkitan Kristus. Bagaimana caranya?</p>
<p>Di balik hukuman Allah semua kitab nabi menyampaikan suatu harapan. Nubuatan hukuman terdiri atas dua bagian: alasan dan akibat. Soal akibat, tentu nubuatan keselamatan merupakan janji, bukan ancaman. Tetapi soal alasan, tidak ada yang berasal dari pihak Israel sendiri! Misalnya, sembilan pasal nubuatan hukuman dalam kitab Amos berakhir dengan <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Amo/T_Amo9.htm#9:10">Amos 9:10</a> yang berbicara tentang orang berdosa yang akan mati terbunuh. Ayat berikut mulai bukan dengan cerita tentang pertobatan dsb melainkan dengan janji mutlak, "Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh". Cara itu berbeda dengan cara Hukum Taurat. Janji berkat dalam <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Ula/T_Ula28.htm#28:1">Ul 28</a> bersyarat ("Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu…"). Kalaupun pertobatan disebutkan dalam nabi-nabi, hal itu adalah karya Allah:</p>
<p><!--more--><br />
<blockquote>
  <br />
  Aku akan mengembalikan para hakimmu seperti dahulu, dan para penasihatmu seperti semula. Sesudah itu engkau akan disebutkan kota keadilan, kota yang setia. (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes1.htm#1:26">Yes 1:26</a>)
</p></blockquote>
<p></p>
<blockquote><p>
  <br />
  Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yer/T_Yer31.htm#31:33">Yer 31:33</a>)
</p></blockquote>
<p></p>
<blockquote><p>
  <br />
  Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya. (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yeh/T_Yeh36.htm#36:26">Yeh 36:26-27</a>)
</p></blockquote>
<p>Jadi, keselamatan Allah dalam nabi-nabi adalah anugerah, karya Allah semata-mata. Kalau begitu, apa tujuan dari nubuatan keselamatan? Nubuatan hukuman memperingati pembaca untuk bertobat demi menghindar dari ancamannya. Tetapi kalau keselamatan itu karya Allah semata-mata, apa "insentifnya"? Yang pertama, janji memberi pembaca pengharapan. Adakah gunanya orang Israel tetap setia kepada Tuhan selama pembuagan? Ya, karena di balik hukuman itu ada keselamatan. Yang kedua, janji dimaksud sebagai pengarah hidup. Misalnya, saya menunggu di bandara daripada naik taksi karena ada janji akan dijemput yang saya percayai. Allah mau supaya umat-Nya mengatur prioritas hidupnya berdasarkan janji-janji-Nya. Tidak mengatur demikian berarti kurang percaya. Dan orang yang tidak percaya tentu menempatkan diri di luar janji itu.</p>
<p>Kalau begitu, bagaimana hubungannya antara janji keselamatan Allah kepada Israel dengan kita? Semua janji yang dirujuk di atas Israel-sentris. Misalnya, <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Amo/T_Amo9.htm#9:12" title="supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku">Amos 9:12</a> menjanjikan penaklukan semua bangsa di bawah Israel. Nah, ada yang menganggap bahwa janji-janji itu masih akan digenapi sebelum (atau ketika) Kristus kembali, dan oleh karena itu menganggap bahwa pendirian negeri Israel setengah abad yang lalu sangat bermakna. Soalnya, PB menganggap bahwa "Kristus adalah "ya" bagi semua janji Allah" (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/2Ko/T_2Ko1.htm#1:20">2 Kor 1:20</a>). Misalnya, Yakobus menerapkan Amos 9:11-12 itu kepada bangsa-bangsa yang menerima pemberitaan Kristus (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kis/T_Kis15.htm#15:14">Kis 15:14-19</a>). Pondok Daud didirikan dalam diri Yesus, sebagai Mesias, anak Daud (ataupun sebagai penggenapan Bait Allah). Ketika bangsa-bangsa menerima Kristus sebagai Tuhan, mereka menjadi bagian dari Kerajaan Allah itu. Negara Israel sekarang tidak ada maknanya. (Namun, jika <span style="font-style:italic;">bangsa</span> Israel bertobat secara massal, mungkin ada maknanya menurut <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Rom/T_Rom11.htm#11:1">Rom 11</a>.)</p>
<p><a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yeh/T_Yeh37.htm#37:1">Yeh 37</a> merupakan salah satu kunci untuk memahami hal itu. Yehezkiel melihat suatu penglihatan tentang orang-orang Israel bangkit sebagai semacam kiasan tentang pembaruan bangsa Israel. Tetapi, apakah orang Israel yang setia akan kehilangan janji itu karena sudah mati? <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Dan/T_Dan12.htm#12:2" title="Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun">Dan 12:2</a> menjawab, tidak. Kebangkitan perorangan menjadi cara semua orang percaya bisa mendapat bagiannya dalam kerajaan Allah yang dijanjikan. Ketika Yesus bangkit, janji itu mulai digenapi. Kebangkitan Mesias serta pencurahan Roh merupakan alasan yang cukup untuk percaya bahwa janji-janji Allah sedang diwujudkan. Lengkapnya, tentu, menunggu Yesus datang kembali.</p>
<p>Jadi, nubuatan keselamatan akan membawa kita untuk percaya bahwa dunia yang baru telah dirintis dalam kebangkitan Yesus dan akan terwujud kembali. Maka kitapun diberi harapan untuk bertahan dalam iman, dan untuk membiarkan kehidupan kita diarahkan oleh dunia yang baru itu. Misalnya, Amos 9:13 berbicara tentang kelimpahan—jadi untuk apa kita menjadi serakah sekarang seakan-akan Allah itu pelit! Yes 2:4 berbicara tentang dunia yang damai—untuk apa kita menjadi tukang pertengkaran. <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat5.htm#5:3" title="Berbahagialah orang yang…karena…">Mt 5:3-10</a> merupakan salah satu penerapan Yesus akan tema ini!</p>
<p><a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/29/seri-pemahaman-pl/">Seri Pemahaman PL</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[8. Nubuatan hukuman]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/06/13/8-nubuatan-hukuman/</link>
<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 02:23:55 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/06/13/8-nubuatan-hukuman/</guid>
<description><![CDATA[Dalam nubuatan PL ada dua golongan besar: nubuatan hukuman dan nubuatan keselamatan. Nubuatan hukuma]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam nubuatan PL ada dua golongan besar: nubuatan hukuman dan nubuatan keselamatan. Nubuatan hukuman memperingatkan Israel akan akibat tidak taat kepada Allah. Banyak nubuatan demikian digenapi ketika Israel (kerajaan utara) kemudian Yehuda (kerajaan selatan) dibuang. Tetapi para nabi tidak menganggap bahwa Allah sudah meninggalkan Israel, sehingga selalu ada juga nubuatan keselamatan, bahwa Allah akan bertindak setelah hukuman untuk mengembalikan bahkan memperbaharui Israel. Tentu, setiap nabi bernubuat dalam konteks tertentu yang perlu dipahami (biasanya ayat 1:1 menyampaikan informasi terpenting soal itu). Komentar ini memberi suatu garis besar untuk mengarahkan pemahaman dalam konteks Kisah Agung Alkitab.</p>
<p><!--more-->
<p>Sebagai contoh nubuatan hukuman saya mengangkat <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mik/T_Mik6.htm#6:1">Mikha 6</a>. Dua bagian besar dalam sebuah nubuatan hukuman adalah perincian dosa (9-12) dan hukuman (13-16). Mikha 6 juga menempatkan kedua hal itu dalam konteks suatu pengadilan (1-2) dengan tanya jawab antara Allah dengan Israel (aa.3-5 Allah menunjukkan kebaikan-Nya; aa.6-7 Israel mengeluhkan beratnya tuntutan Allah; a.8 Allah mengingatkan mereka bahwa tuntutan-Nya justru sederhana, itu yang mendasari aa.9-12). Nah, jika ada pengadilan dalam Mikha 6, dasar hukumnya apa? Jawabannya perjanjian Allah dengan Israel. Setiap bagian berhubungan dengan perjanjian itu: aa.3-5 dengan permulaannya karena anugerah Allah; aa.6-12 dengan tuntutannya; aa.13-16 dengan kutuk jika dilanggar. Yang tersurat dalam Mikha 6 saya anggap tersirat dalam semua nubuatan hukuman. Dasar hukuman Allah adalah perjanjian-Nya dengan Israel yang di dalamnya Allah menunjukkan kasih-Nya dalam menyelamatkan Israel dan juga menawarkan berkat atau kutuk.</p>
<p>Bagaimana ditafsir? Bagian perincian dosa tidak terlalu sulit, apalagi dalam konteks Indonesia yang melihat banyak masalah yang sama: agama yang munafik dan ketidakadilan. Penting bahwa kebencian Allah terhadap hal-hal itu disampaikan dengan jelas. Namun, jangan sampai anugerah Allah sebagai dasar terlupa. Ketidakadilan adalah dosa terhadap Allah juga, karena membalas kebaikan-Nya dengan kejahatan. Berlaku tidak adil dsb menunjukkan bahwa kita menganggap pengorbanan Kristus kurang sebagai bukti kasih Allah (pengorbanan Kristus dalam PB sejajar dengan keluaran Israel dari Mesir).</p>
<p>Yang lebih sulit ialah menafsir hukuman Allah. Dalam pengamatan saya pendeta cenderung menafsir hukuman Allah sebagai akibat sementara dalam kehidupan ini. Nah, jelas bahwa dosa ada akibatnya sekarang, bisa sebagai hukuman langsung dari Allah (seperti <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kis/T_Kis5.htm#5:1" title="Kisah Para Rasul 5">Ananias dan Safira</a>) dan juga sebagai akibat alami (dibahas lain kali terkait dengan kitab Amsal). Tetapi jika hukuman dalam para nabi merujuk pada pembuangan maka maknanya terkait dengan hukuman eskatologis. Israel dibuang dari hadirat Allah seperti Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, dan bahasa Yesus ketika berhadapan dengan Israel yang munafik dan tidak adil adalah bahasa neraka (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat23.htm#23:33" title="Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?">Mt 23:33</a>).</p>
<p>Hukuman juga dilihat dalam rangka pembersihan. <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes1.htm#1:21">Yes 1:21-26</a> menggunakan kiasan pemurnian logam untuk menunjukkan mengapa Tuhan harus bertindak terhadap Israel. Dalam aa.27-28 hal itu berarti bahwa orang-orang berdosa harus dihancurkan. Orang-orang itu tidak cocok dengan umat yang sudah disempurnakan. Zefanya melihat pembersihan itu pada skala segenap bumi (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Zef/T_Zef1.htm#1:2" title="Aku akan menyapu bersih segala-galanya dari atas muka bumi">Zef 1:2</a>). Dalam Yes 53 pemurnian Israel dihasilkan di depan bangsa-bangsa (Yes 52:15) dalam sosok seorang Hamba. Tentu PB melihat Yesus sebagai Hamba itu. Hal itu akan dijelaskan lebih lengkap dalam kaitan dengan nubuatan keselamatan.</p>
<p><a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/29/seri-pemahaman-pl/">Seri Pemahaman PL</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[7. Menafsir sejarah (2)]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/06/04/7-menafsir-sejarah-2/</link>
<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 09:25:57 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/06/04/7-menafsir-sejarah-2/</guid>
<description><![CDATA[Sejarah Israel (khususnya Yosua sampai Raja-Raja) memperlihatkan bagaimana Allah bergaul dengan umat]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah Israel (khususnya Yosua sampai Raja-Raja) memperlihatkan bagaimana Allah bergaul dengan umat-Nya berdasarkan perjanjian di Sinai. Nubuatan (sebagai lanjutan dari penyataan Allah dalam Taurat) menjadi cara Dia berkomunikasi dengan Israel dan juga mengendalikan sejarahnya. Sejarah itu meliputi berkat dan kutuk, sesuai dengan "sanksi" perjanjian (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Ima/T_Ima26.htm#26:1">Im 26</a>, <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Ula/T_Ula28.htm#28:1">Ul 28</a>). Oleh karena kegagalan Israel maka Yesus menanggung kutuk itu supaya berkat itu sampai kepada bangsa-bangsa (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Gal/T_Gal3.htm#3:13" title="Kristus…menjadi kutuk karena kita…supaya…berkat Abraham sampai…">Gal 3:13-14</a>).</p>
<p><!--more-->
<p>Abraham dipanggil untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, dan Israel menerapkan panggilan itu sebagai "kerajaan imam" di tengah bangsa-bangsa (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kel/T_Kel19.htm#19:5" title="Akulah yang empunya seluruh bumi…">Kel 19:5b-6</a>). Berkat bagi Israel sendiri menjadi fokus kitab Yosua dengan pemberian tanah Israel, dan berpuncak pada kerajaan Daud dan Salomo. Berkat bagi bangsa-bangsa berpuncak pada kerajaan Salomo dan khususnya perkunjungan Ratu Syeba yang berseru, "Terpujilah Tuhan, Allahmu…" (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/1Ra/T_1Ra10.htm#10:9">1 Raj 10:9</a>). Namun, keberdosaan Israel menjadi tema yang penting sejak kitab Hakim-Hakim, dan menonjol dalam pelanggaran Daud, bahkan Salomo sendiri pada pasal setelah perkunjungan Ratu Syeba itu! Setelah perpecahan Israel (1 Raj 12) setiap raja dinilai berdasarkan apakah setia atau tidak kepada Allah.</p>
<p>Oleh karena Israel melanggar Taurat, maka Allah memanggil para nabi seperti Samuel, Natan dan Elia yang menegor para raja dan memanggil umat Israel untuk setia kepada Tuhan. Banyak nabi kecil ikut berperan juga. Fokusnya bukan pada orangnya melainkan pada firman Allah yang mengendalikan sejarah Israel. Misalnya, sebelum perpecahan kerajaan Israel Allah menubuatkannya kepada Salomo (1 Raj 11:11-13), kemudian memprovokasi lawan Salomo melalui seorang nabi yang bernubuat demikian juga (1 Raj 11:31-39). Nubuatan itu digenapi melalui sikap Rehabeam (12:15). Demikian keterlibatan dan kedaulatan Allah ditunjukkan. Nubuatan demikian yang mungkin paling jauh jangkauannya terdapat dalam <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/1Ra/T_1Ra13.htm#13:2" title="Yosia…akan menyembelih di atasmu imam-imam bukit pengorbanan…">1 Raj 13:2</a>, yang digenapi di <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/2Ra/T_2Ra23.htm#23:15" title="…sesuai dengan firman Tuhan yang telah diserukan oleh Abdi Allah">2 Raj 23:15-16</a>!</p>
<p>Namun, peringatan para nabi tidak dihiraukan sehingga Israel dibuang dalam dua tahap, kerajaan Utara yang disebut Israel (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/2Ra/T_2Ra17.htm#17:6" title="raja Asyur…mengangkut orang-orang Israel ke Asyur">2 Raj 17:6</a>) lebih dulu, kemudian kerajaan Selatan yang disebut Yehuda (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/2Ra/T_2Ra25.htm#25:9" title="Demikianlah orang Yehuda diangkut ke dalam pembuangan dari tanahnya.">2 Raj 25:25b</a>). Penjelasan disampaikan setelah tahap pertama secara panjang lebar (2 Raj 17:7-23). Intinya pada aa.17-18 yang menjelaskan bagaimana pemberontakan Israel membuat Allah sakit hati, sehingga Dia murka dan menjauhkan mereka dari hadapan-Nya. Tindakan Allah itu sejajar dengan tindakan-Nya mengusir manusia perdana dari taman Eden, hanya terhadap Israel ada perasaan yang jauh lebih kuat—mungkin karena pemberontakan Israel terjadi di hadapan anugerah (17:7) dan peringatan (17:13) Allah yang berulangkali.</p>
<p>2 Raja-Raja berakhir dengan Israel masih dalam pembuangan. Walau 1-2 Tawarikh dan Ezra-Nehemia menceritakan kembalinya Israel dari pembuangan, panggilan Israel dan berkat Abraham tetap belum terwujud. Jembatan untuk melihat penggenapannya dalam Kristus terdapat dalam kitab-kitab para nabi.</p>
<p><a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/29/seri-pemahaman-pl/">Seri Pemahaman PL</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Er bortrykkinga bibelsk?]]></title>
<link>http://katolikken.wordpress.com/?p=823</link>
<pubDate>Tue, 27 May 2008 13:24:31 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kjetil Kringlebotten</dc:creator>
<guid>http://katolikken.wordpress.com/?p=823</guid>
<description><![CDATA[Her fylgjer eit innlegg eg hadde i DagenMagazinet, Torsdag 22. mai. Eg skal fyrst presentere innlegg]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Her fylgjer eit innlegg eg hadde i <em>DagenMagazinet</em>, Torsdag 22. mai. Eg skal fyrst presentere innlegget, før eg legg til nokre kommentarar.</p>
<p align="center">______________________________</p>
<p align="center"><em>Er bortrykkinga bibelsk?</em><br />
Innlegg i DagenMagazinet, 22.05.2008</p>
<p>Ivar Haugsbakk skriv om den såkalla bortrykkinga i DagenMagazinet 13. mai. Etter å ha lest innlegget, slo eg opp på dei forskjellige bibelstadene han nemner. Men ingen av desse underbyggjer hans påstand om at det er noko bortrykking før trengsla. Faktisk så finn du ikkje dette i Bibelen i det heile tatt.</p>
<p>Det interesante er at når han siterer frå 1Tess 4, så siterer han vers. 17, men ikkje vers 16. I vers 17 står det, etter NT05: «Så skal vi som har vorte att og enno lever, rykkjast bort saman med dei i skyene og møta Herren i lufta. Og så skal vi alltid vera saman med Herren.»</p>
<p>Kven er desse som skal rykkast opp fyrst, før «vi som har vorte att og enno lever»? Dei les vi om i v. 16: «For når det bydande ropet lyder, når erkeengelen lyfter si røyst og Guds basun ljomar, då skal Herren sjølv stiga ned frå himmelen, og dei døde i Kristus skal først stå opp.»</p>
<p>Dei fyrste som skal stå opp er altså «dei døde i Kristus.» Men kortid skal dei stå opp? Står det noko i Bibelen om at dei skal stå opp før trengsla? Nei, les Johannes, kap. 6. Der seier Kristus gong på gong at desse skal reisast opp «på den siste dagen.» Eit døme er Joh 6:39: «Og det han vil, han som sende meg, er at eg ikkje skal mista nokon av alle dei han har gjeve meg, men reisa dei opp på den siste dagen.» (sjå også v. 40, 44 og 55). Dei skal altså opp på «den siste dagen,» ikkje «før opprykkinga.»</p>
<p>Denne teorien om ei bortrykking før den store trengsla er eit godt døme på eisegese, at ein les ein teori inn i Skrifta. (I motsetnad til eksegese, der ein les noko ut av Skrifta.) Kvifor prøver ein å maskere dette som noko «bibelsk»?</p>
<p align="center">______________________________</p>
<p><strong>Nokre kommentarar:</strong></p>
<p>Eg fekk same dag --- 22. mai --- ein telefon frå ein eldre mann som var ueinig med meg, med tanke på om bortrykkinga (om den skal forståast bokstavleg eller ikkje) skjer før eller etter trengsla. Han meinte at den skal skje før trengsla, sjølv om Kristus klart seier noko anna, og ville 'bevise' dette ved å vise til Op 3, brevet til forsamlinga i Filadelfia. Eg siterer v. 7-10 (han siterte 8-10):</p>
<blockquote><p>Skriv til engelen for forsamlinga i Filadelfia: Dette seier Den heilage og sannferdige, han som har Davids nøkkel, som opnar så ingen kan stengja, og stengjer så ingen kan opna: Eg veit om gjerningane dine. Sjå, eg har sett framfor deg ei opna dør, som ingen kan stengja. For du har lita kraft, og du har halde fast på mitt ord og ikkje fornekta mitt namn. Sjå, eg lèt nokre koma frå Satans synagoge, slike som lyg og seier dei er jødar, men ikkje er det. Dei skal koma og kasta seg ned for føtene dine, og dei skal skjøna at eg har elska deg. <em>Du har halde fast på mitt ord om tolmod. Difor vil eg halda fast på deg i den prøvingstida som skal koma over heile verda for å prøva dei som bur på jorda</em>.</p></blockquote>
<p>Det siste verset, v. 10, som eg har utheva, meinte han 'beviste' den 'evangeliske' læra om bortrykkinga. Men kan nokon vere så snill å vise kor det står? Det eg les er at Kristus skal "halda fast på oss i den prøvingstida som skal koma over heile verda for å prøva dei som bur på jorda." Kor står det at å 'halde fast' betyr 'rykke bort'? Dette er eit spesielt interessant spørsmål sidan Kristus så klart seier at ingen kristne skal rykkast bort eller opp før 'den siste dagen.' Slik eg ser det, så handlar det ikkje om at vi skal verta bortrykka --- vekk frå trengle og forfylgjing --- men at Kristus skal halda fast på oss --- <em>i trengle og forfylgjing</em>. Når vi vert forfylgde kan vi altså stole på at Kristus er der for oss, og vi kan halda på håpet om himmelen.</p>
<p>Eg fekk beskjed i telefonen at eg måtte ta 'sanninga om bortrykkinga' (mine ord) inn i hjarta, for å ikkje vera i villreie. Vel, sidan eg --- etter å ha lest dei bibelstadane han viste til --- endå ikkje finn noko 'bevis' for dette, så trur eg at eg er på det tørre. Speielt sidan ingen trudde på det før 1800-talet med John Darby og the Plymouth Brethren. (Les litt om dei <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Plymouth_Brethren" target="_blank">her</a>.) Etter telefonen meiner eg faktisk at mitt syn er styrka. Men erfaringa tilseier at dei som held på den læra eg forkastar ikkje vil forsvinne, rett og slett fordi den 'klør i øyra.' Kven vil ikkje ha eit ut-av-trengsla-frikort? Då vil eg avslutte med nokre ord av Brian M. Schwertley og Aristobulus (Roger) Allen.</p>
<p><a href="http://www.reformedonline.com/view/reformedonline/rapture.htm" target="_blank">Brian M. Schwertley</a>:</p>
<blockquote><p>Although the pretribulation rapture theory is very popular today, given arguments that are offered in support of this doctrine we must declare Pretribulationalism to be contrary to the clear teachings of Scripture. Simply put, there is not one shred of evidence that can be found in the Bible to support the pretribulation rapture. The typical Pretribulational arguments offered reveal a pattern: of imposing one’s presuppositions onto a text without any exegetical justification whatsoever; of finding subtle meaning between words and/or phrases that were never intended by the author; of spiritualizing or ignoring passages that contradict the Pretribulational paradigm; and, of imposing Pretribulationalism upon passages that actually teach the unity of the eschatological complex (i.e., the rapture, second coming, general resurrection, and general judgment all occur on the same day—the day of the Lord). It is our hope and prayer that professing Christians would cast off this escapist fantasy and return to the task of personal sanctification and godly dominion.</p></blockquote>
<p><a href="http://www.onearthasinheaven.com/rapture.html" target="_blank">Aristobulus (Roger) Allen</a>:</p>
<blockquote><p>The Rapture doctrine, which was the invention of the Plymouth Brethren led by John Nelson Darby (1800-1882), has today been adopted by most Baptist, Pentecostals, Assemblies of God, and a variety of other fundamentalist sects. The idea that Jesus Christ will return for His true Church just before the beginning of the Great Tribulation in a secret gathering or "catching away" was an important part of Darby's teaching. The movement in which this teaching began originated in small groups in England and Ireland about 1828 and by 1831 was part of the official teaching of the Plymouth Brethren. By 1860 the "rapture" had made its way to the United States. (...)</p>
<p>Perhaps the most vivid picture of our Lord's 2nd coming to earth is found in the words of St. John the Apostle. In the book of Revelation he writes: "Behold, He cometh with clouds and <span style="text-decoration:underline;">every eye shall see Him</span>, and they also which pierced Him: and all kindreds of the earth shall wail because of Him. Even so, amen (Revelation 1:7)". Far from believing that the Lord will return "secretly" to rapture the Church 7 years before His 2nd coming, St. John says that every human being on earth will see the Lord descend from <span style="text-decoration:underline;">the clouds</span>. Once again, here are the words of the Nicene Creed, the symbol and statement of faith for all Christians: "He will come again in <span style="text-decoration:underline;">glory</span> to judge the living and the dead and His kindgom shall have no end." The 2nd coming of our Lord Jesus Christ shall be in glory, <span style="text-decoration:underline;">not in secret</span>. Then the Prince of Peace shall establish true peace, joy, and righteousness on the earth; "For the earth shall be filled with the knowledge of the glory of the Lord, as the waters cover the sea (Habakkuk 2:14)".</p>
<p>Finally, the Rapture doctrine is dangerous because it teaches Christians that they will be spared all tribulation, wrath, and danger in the last days. The need for urgent preparation of one's heart and soul is diminished because Christians will be secretly taken away from all that pain. No need to worry, we'll just fly away. Unlike the Early Christians, most of whom were murdered by this world's authorities, the end-time Christians have a <span style="text-decoration:underline;">get-out-of-tribulation free card</span> called the Rapture. Remember the words of St. Paul, "All those who live godly in Christ Jesus <span style="text-decoration:underline;">shall suffer persecution</span> (2 Timothy 2:12)." And lastly, the words of the Lord in John 16:33, "These things I have spoken unto you, that in Me you might have peace. <span style="text-decoration:underline;">In the world you shall have tribulation</span>, but be of good cheer, I have overcome the world."</p></blockquote>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[5. Hukum Taurat: Etika]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/22/5-hukum-taurat-etika/</link>
<pubDate>Thu, 22 May 2008 06:55:27 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/22/5-hukum-taurat-etika/</guid>
<description><![CDATA[Saya hitung tiga macam kesulitan dalam memahami perintah-perintah Hukum Taurat (HT).

Keadaan tidak ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Saya hitung tiga macam kesulitan dalam memahami perintah-perintah Hukum Taurat (HT).</p>
<ol>
<li>Keadaan tidak lagi cocok, seperti Im 19:9 "Janganlah kausabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya". Saya tidak memiliki ladang!</li>
<li>Alasannya kurang jelas. Im 19:19 memberi perintah untuk tidak memakai pakaian yang dibuat dari dua jenis bahan. Mengapa?</li>
<li>Perjanjian Baru menilai lain. Im 19:26 melarang memakan daging yang masih berdarah, sedangkan Paulus mengatakan bahwa "semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatupun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur" (1 Tim 4:4). Kategori ini juga termasuk "mata ganti mata" yang ditanggapi oleh Yesus (Im 24:20 &#38; Mt 5:38-39), serta hari Sabat yang beralih satu hari (dan sifatnya berubah juga).</li>
</ol>
<p>Kita bisa tambah bingung ketika kita membaca perkataan Yesus di Khotbah di Bukit bahwa satu titikpun tidak akan ditiadakan dari HT (Mt 5:18), padahal beberapa ayat kemudian Yesus sepertinya meniadakan sumpah (5:33) dan pembalasan (5:38).</p>
<p>Sekali lagi kita berhadapan dengan <a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/08/0b-kisah-agung-alkitab/" title="Kiash Agung Alkitab">Alkitab yang dinamis</a>, yang berkembang. Saya sudah <a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/13/4-hukum-taurat-kurban-dan-kenajisan/" title="Kurban dan Kenajisan">mengusulkan</a> bahwa "ketika Yesus menggenapi sistem kurban dalam PL, dia tidak meniadakan maknanya melainkan menerapkan maknanya dengan cara yang baru". Saya mau mengusulkan bahwa prinsip itu berlaku untuk perintah-perintah etis juga. Yesus mengatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan HT, melainkan untuk menggenapinya (Mt 5:17). Apa maknanya yang diterapkan dan bagaimana caranya yang baru?</p>
<p>Cara yang baru adalah oleh Roh Kudus. Khotbah di bukit ditujukan kepada murid-murid Yesus yang telah menerima panggilan Kerajaan Allah yang dekat. Satu harapan PL tentang Kerajaan Allah ialah hati yang baru (Yer 31:33; Yeh 36:26) oleh karena kehadiran Roh Allah (Yeh 36:27). Maka cocoklah ketika Yohanes Pembaptis menyampaikan bahwa Yesus akan membaptis dengan Roh Kudus (Mt 3:11). Jadi, dalam Khotbah di Bukit Yesus menyampaikan makna HT kepada umat Allah yang mau diperbarui oleh Roh Kudus, atau dalam bahasa Paulus mau lulus dari pengawasan HT sebagai penuntun.</p>
<p>Makna HT yang mau diterapkan oleh umat yang baru itu disimpulkan oleh Yesus dengan Aturan Emas (Mt 7:12 "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka"), dan kemudian secara lebih lengkap dalam kedua Perintah Agung, kasih kepada Allah dan sesama (Mt 21:37-40, yang mengutip HT sendiri!). Secara lebih terperinci, Yesus menguraikan berbagai perintah dalam Mt 5:21-48. Umat yang baru bukan hanya akan sanggup menahan diri dari pembunuhan, perzinahan, sumpah palsu dsb, tetapi juga akan sanggup tidak marah, tidak berhawa nafsu, selalu jujur dsb. Yesus menerapkan makna <span style="font-style:italic;">seluruh</span> HT (tidak satu titikpun dibuang) dalam konteks umat yang baru. (Bnd. Rom 8:3-4; 13:8-9; Gal 5:22-23.)</p>
<p>Jika demikian, maka kita harus selalu menafsir HT sebagai anggota umat yang baru (jemaat). Kadangkala makna yang perlu diterapkan sudah jelas, seperti Im 19:10 yang menjelaskan bahwa penuaian harus meninggalkan sisa-sisa bagi orang miskin. Cara sekarang mungkin lain (seperti diakonia melalui jemaat), tetapi maknanya tetap berlaku, dan Im 19:9-18 mengingatkan kita bahwa kasih kepada sesama harus praktis. Jika maknanya tidak jelas bagi kita, seperti Im 19:19, maka kita bisa percaya bahwa maknanya akan muncul di tempat yang lain. Kadangkala maknanya cukup dalam. Makna hari Sabat mulai dengan kenikmatan Allah akan hasil penciptaan-Nya (Kej 2) sampai menjadi simbol harapan akan ciptaan yang baru (Ibr 4:9-11). Itu mengapa Yesus suka menyembuhkan pada hari Sabat. Berhenti dari pekerjaan hanya satu cara untuk diperbarui dalam harapan itu!</p>
<p><a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/29/seri-pemahaman-pl/">Seri Pemahaman PL</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kis 2:14-40 Allah Tritunggal dinyatakan]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/15/kis-214-40-allah-tritunggal-dinyatakan/</link>
<pubDate>Thu, 15 May 2008 12:38:29 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/15/kis-214-40-allah-tritunggal-dinyatakan/</guid>
<description><![CDATA[Hari minggu setelah hari Pentakosta adalah Hari Tritunggal (kecuali dalam denominasi yang mengabaika]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Hari minggu setelah hari Pentakosta adalah Hari Tritunggal (kecuali dalam denominasi yang mengabaikannya saja). Alasannya mudah-mudahan jelas dalam uraian di bawah. Satu masalah doktrin tritunggal adalah bahwa orang mulai dari hasil konsili-konsili yang dirumuskan pada abad ke-4 dst, kemudian menjadikan itu sebagai substansi doktrin itu (entah untuk didukung entah untuk ditolak). Padahal para teolog yang bergumul itu mengaku menafsir Alkitab. Renungan ini menafsir Alkitab. Yang muncul tentu tidak serumit hasil pergumulan beberapa abad, tetapi saya harap sudah berguna untuk menerangkan hidup kita dengan Allah.</p>
<p>Khotbah Petrus terdiri dari refleksi atas tiga nas PL. Dia mulai dengan menjelaskan bahwa fenomena yang sedang diamati oleh orang banyak adalah pencurahan Roh Kudus sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yoel. Pada masa Yoel, Israel mengalami tulah belalang. Allah menyerukan pertobatan (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yoe/T_Yoe2.htm#2:12">Yoel 2:12</a>dst), dan janji-Nya bila mereka bertobat mencakup pemulihan tanah Israel (2:18dst), yang disusul dengan pencurahan Roh Kudus (2:28-29, sebagai pemulihan hati bangsa? [bnd. 2:12-13]) dan datangnya hari Tuhan serta keselamatan daripadanya (30-32). Hari Tuhan itu dijelaskan lebih lanjut sebagai penghukuman bangsa-bangsa (p.3). Pola hukuman-keselamatan yang bermuara pada Israel dipulihkan di atas bangsa-bangsa musuh adalah pola kisah tentang didirikannya Kerajaan Allah, seperti dipersoalkan murid-murid Yesus sebelum Dia naik (<a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/28/kis-16-11/" title="Tuhan, maukah Engkau memulihkan kerajaan?">Kis 1:6</a>).</p>
<p>Sepertinya bagian nubuatan Yoel tentang Roh Kudus tidak perlu dijelaskan, karena yang menjadi pokok perhatian ialah <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kis/T_Kis2.htm#2:21" title="barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan">Kis 2:21</a>, dan khususnya siapakah Tuhan yang nama-Nya diserukan. Aa.22-36 menjelaskan hal itu dalam beberapa tahap.</p>
<ul>
<li>Aa.22-23 menceritakan pokok-pokok riwayat Yesus yang dikenal secara umum, yang mengidentifikasi Yesus mana yang dibahas.</li>
<li>Aa.24-32 membuktikan Yesus sebagai Mesias (= Kristus). Petrus memakai Mzm 16 yang dikaitkan dengan perjanjian Allah dengan Daud (2 Sam 7) untuk membuktikan bahwa Mesias (= Kristus) akan bangkit (aa.25-31). Di sekitar argumentasi itu terdapat kesaksian para murid bahwa Yesus itu telah bangkit (aa.24, 32, hal itu mungkin belum diketahui secara umum).</li>
<li>Aa.33-36 membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Nasnya Mzm 110 yang membuktikan bahwa Daud sendiri bukan Mesias yang akan duduk di sebelah kanan Allah. Pencurahan Roh yang baru disaksikan orang banyak adalah bukti bahwa Yesus yang telah naik ke sana (a.33).</li>
<li>Dengan demikian Petrus dapat menyimpulkan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus. Pengulangan tuduhan "yang kamu salibkan" (a.37) memicu pertanyaan orang banyak dalam a.38, karena jelas para pembunuh Mesias tidak akan luput pada hari Tuhan!</li>
</ul>
<p>Jawaban Petrus yang terakhir menarik, karena dalam menjelaskan pertobatan dia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus (a.38). Yoel mengatakan bahwa siapa yang berseru kepada nama Tuhan (Yahweh, nama Allah, yang diterjemahkan dengan kata Yunani <span style="font-style:italic;">kurios</span>) akan diselamatkan. Petrus menerapkan nubuatan itu pada nama Yesus. Yesus telah dilantik sebagai <span style="font-style:italic;">kurios</span> yang nama-Nya menyelamatkan. Bukannya Dia menggantikan atau melebur dengan Allah--sebaliknya Yesus menerima Roh Kudus dari Allah Bapa [kata Bapa hilang saja dari LAI!] untuk dicurahkan ke atas umat-Nya (a.33). Tetapi Yesus memegang nama Allah itu, sehingga Dia tergolong dengan Allah. Kemudian, dalam narasi kitab Kisah Para Rasul Roh Kudus (yang selalu tergolong dengan Allah) digambarkan dengan kepribadian--dicobai (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kis/T_Kis5.htm#5:9" title="Mengapa kamu bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?">5:9</a>) dan berbicara (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kis/T_Kis13.htm#13:2" title="">13:2</a> dsb).</p>
<p>Secara sederhana kita lihat di sini bahwa penyelenggaraan penyelamatan Allah sudah dibagi tiga. Allah memanggil (a.39, yang mengutip bagian akhir Yoel 2:32 yang tidak dikutip di atas), pengampunan dan identitas (baptisan) terdapat dalam Kristus sebagai <span style="font-style:italic;">kurios</span>, dan Roh Kudus diterima untuk suatu hidup baru (aa.42-47). Bentuk tritunggal sudah muncul ketika Yesus lahir dan dibaptis. Sejak hari Pentakosta, seluruh hidup gereja berbentuk tritunggal. Keselamatan bukan hanya soal dipanggil Allah Bapa (untuk berjuang tanpa harapan yang jelas), bukan hanya soal diampuni dalam Kristus (tanpa ada kuasa untuk berubah), dan bukan hanya soal pembaruan oleh Roh. Ke-3,000 orang Israel yang menerima penawaran Injil pada saat itu mengalami keselamatan yang utuh dari Allah tritunggal. Penawaran yang sama ada bagi kita.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Hexakosioihexekontahexafobia]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/12/hexakosioihexekontahexafobia/</link>
<pubDate>Mon, 12 May 2008 10:30:22 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/12/hexakosioihexekontahexafobia/</guid>
<description><![CDATA[Ada yang memberitahu saya kalau ada SMS yang beredar menuduh kartu AXIS sebagai milik gereja setan. ]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang memberitahu saya kalau ada SMS yang beredar menuduh kartu AXIS sebagai milik gereja setan. Melihat di web (misalnya <a href="http://klpzyxm.blogspot.com/2008/05/gsm-axis-nomornya-kaisar-nero.html">GSM AXIS &#124; nomornya Kaisar Nero</a>, <a href="http://etersoul.com/2008/04/24/operator-gsm-baru-lagi-axis/">Operator GSM baru (lagi): AXIS « Blog Archive « Etersoul Journey</a>), ada kreatifitas besar dalam permainan kata. AXIS terbalik = Six-A (enam A) atau Siksa, ada angka 60 dsb. Dalam kehebohan seperti ini isu-isu disebarkan, seperti adanya berita tentang dua orang yang meninggal tanpa luka dsb. Selain banyak orang meninggal tanpa luka (jantung gagal ketika tidur, misalnya), sumber berita itu tidak jelas. Dari mana SMS itu? Ada yang bilang SMS itu berasal dari saingan, bahkan ada yang bilang bahwa SMS itu muslihat AXIS sendiri dengan alasan bahwa tarifnya disebarluaskan secara gratis!</p>
<p>Saya teringat akan seorang teman yang pernah dihebohkan oleh isu <span style="font-style:italic;">bar-code</span> (kode pada barang di tokoh yang dapat dibaca secara elektronik) karena katanya kerangka <span style="font-style:italic;">bar-code</span> itu 666. Ketakutan akan nomor 666 disebut <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hexakosioihexekontahexaphobia">Hexakosioihexekontahexaphobia</a>. Misalnya, Ronald Reagan (mantan Presiden AS) pernah mengubah angka alamatnya yang bernomor 666. Mungkin kaum anti-AXIS sedang menderita gangguan mental ini. :) (Saya juga teringat akan suatu suku yang tidak usah disebut namanya yang beramai-ramai ke pasar membeli kacang hijau (kalau tidak salah) dengan harga mahal untuk mencegah SARS. Soalnya, ada yang terlalu gampang percaya.)</p>
<p>Angka 666 di <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Wah/T_Wah13.htm#13:18" title="bilangan itu adalah bilangan seorang manusia...">Wahyu 13:18</a> kemungkinan besar merujuk pada Nero (lihat <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Number_of_the_Beast#Name">artikel ini</a>). Dia adalah diktator kekaisaran Roma pada abad pertama yang makin lama makin gila, termasuk menganiaya kaum Kristiani. Dalam kitab Wahyu dia (serta pemerintahan Roma) menjadi contoh pemimpin-pemimpin yang menentang Kristus. Kehebohan soal sebuah kartu seluler menyepelekan sesuatu yang serius, yaitu adanya kejahatan (politis, ekonomis, spiritual) yang menentang Kerajaan Allah. Rasul Paulus menperingatkan Timotius tentang pengajar Hukum Taurat yang tidak mengerti apa yang mereka katakan (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/1Ti/T_1Ti1.htm#1:7">1 Tim 1:7</a>). Mempersoalkan munculnya angka 6 karena Wah 13:18 adalah contoh menyalahgunakan kitab Wahyu.</p>
<p>Nah, mungkin saya terlalu bereaksi, karena klaim SMSnya sepertinya bukan bahwa Iblis mengendalikan kartu AXIS langsung melainkan bahwa ada Gereja Setan yang demikian. Cuman, buktinya jika lembaga tersebut dapat dihubungkan dengan perusahaan tersebut, bukan bermain-main dengan angka. Permainan angka dan kata sangat lentur. Tahukah bahwa kata Gereja adalah satu angka setan? Kalau pakai tombol untuk membuat SMS, Gereja = 4+3+7+3+5+2 = 24 = 2+4 = 6. Kemudian, kalau kata gereja terbalik, maka huruf pertama adalah A yang kalau terbalik adalah tanduk, pertanda setan. Mengapa pakai tombol HP? Mengapa membalikkan kata gereja? Mengapa tidak! Seluruh permainan seperti ini sembarangan saja.</p>
<p>(Bagaimana kalau kata Toraja? Aslinya Toraya = 8+6+7+2+9+2 = 34 = 3 + 4 = 7, yaitu angka keutuhan / kesempurnaan...)</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[0b. Kisah Agung Alkitab]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/08/0b-kisah-agung-alkitab/</link>
<pubDate>Thu, 08 May 2008 09:50:42 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/08/0b-kisah-agung-alkitab/</guid>
<description><![CDATA[Bagian sebelumnya menempatkan pemahaman saya tentang Alkitab antara liberal dengan fundamentalis, ya]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/08/0a-membaca-alkitab/" title="Membaca Alkitab">Bagian sebelumnya</a> menempatkan pemahaman saya tentang Alkitab antara liberal dengan fundamentalis, yaitu bahwa melalui kepelbagaiannya, Alkitab menyampaikan firman yang satu, yakni Kristus. Lebih tajam lagi, saya mau mengusulkan bahwa Kristus disampaikan dalam konteks suatu Kisah Agung. Kisah itu merupakan usaha Allah untuk mewujudkan suatu umat milik-Nya sendiri (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kel/T_Kel6.htm#6:6" title="Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu">Kel 6:6</a>, <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Wah/T_Wah21.htm#21:3" title="Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka">Why 21:3</a>).</p>
<ul>
<li>Pendahuluan Kisah itu adalah Kej 1-2, yang di dalamnya kedua tokoh besar (Allah dan manusia) diperkenalkan dan latar seluruh kisah (dunia yang diciptakan Allah untuk manusia diam di dalamnya sebagai umat-Nya).</li>
<li>Kisah itu digerakkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej 3) yang akibatnya diuraikan dalam Kej 3-11. Perisitiwa itu merupakan halangan besar untuk tujuan Allah karena manusia harus diusir dari hadapan-Nya.</li>
<li>Panggilan Abraham (Kej 12), pembentukan Israel (Kel 19) dan kerajaan Daud (2 Sam 7) merupakan tahap-tahap penting dalam usaha Allah untuk mewujudkan kembali umat itu, tetapi pembuangan ke Babel menunjukkan bahwa usaha-usaha itu belum berhasil (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yer/T_Yer31.htm#31:31" title="perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari">Yer 31:31-34</a>).</li>
<li>Kristuslah yang menjadi titik balik sebagai Israel / manusia yang sejati ketika Dia <a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/28/kis-16-11/" title="Untitled">mendatangkan kerajaan Allah</a> dalam kematian dan kebangkitan-Nya.</li>
<li>Kedatagan-Nya kembali akan menjadi puncak Kisah Agung ini, dengan ciptaan baru sebagai resolusi yang di dalam-Nya cita-cita Allah sudah terwujud (Why 21-22).</li>
</ul>
<p>Beberapa implikasi dari usulan di atas:</p>
<ol>
<li>Penyataan Allah dinamis. Pemahaman tentang siapakah Allah, bagaimana berelasi dengan-Nya, apa kehendak-Nya berkembang dalam kisah Alkitab.</li>
<li>Dengan demikian, satu bagian harus ditafsir sesuai dengan tempatnya dalam Kisah Agung itu. Yang berlaku untuk Israel belum tentu tepat dalam zaman gereja (seperti <a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/05/13/4-hukum-taurat-kurban-dan-kenajisan/" title="Kurban dan Kenajisan">soal daging bagi</a> dan perang suci).</li>
<li>Hal itu memberi ruang untuk kepelbagaian, yang dapat dihargai dalam tempatnya masing-masing dalam Kisah Agung itu. Perang suci ala kitab Yosua tidak ditolak begitu saja, tetapi juga tidak diterima tanpa melihat bagaimana bentuk kerajaan Allah pada masa gereja.</li>
<li>Alkitab berbentuk misi, yaitu rencana Allah (<span style="font-style:italic;">missio Dei</span>) yang mengarahkan hidup kita.</li>
</ol>
<p><a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/29/seri-pemahaman-pl/">Seri Pemahaman PL</a></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Lammet og dei 144 000]]></title>
<link>http://katolikken.wordpress.com/?p=809</link>
<pubDate>Fri, 02 May 2008 12:26:11 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kjetil Kringlebotten</dc:creator>
<guid>http://katolikken.wordpress.com/?p=809</guid>
<description><![CDATA[Og eg såg, og sjå! &#8212; Lammet stod på Sionfjellet, og saman med han dei 144 000 som hadde nam]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Og eg såg, og sjå! --- Lammet stod på Sionfjellet, og saman med han dei 144 000 som hadde namnet til Lammet og namnet til Far hans skrive på panna. (Op 14:1)<a href="#1"><sup>[1]</sup></a></p></blockquote>
<p>Det finst mange tolkingar av dette verset. Den --- eller dei --- som kanskje har mest utbreiing, spesielt hjå moderne episkopale protestantar, er at desse 144 000 er jødar som eingong i framtida skal bli frelst. I ei fotnote i <em>Norsk Studiebibel</em> finn vi denne tolkinga. Der står det at dei 144 000 “vil tilhøre den hellige rest som kommer til omvendelse i endetiden.”<a href="#2"><sup>[2]</sup></a> Men i ei fotnote til NJB-studiebibelen står det at “the followers of the beast who are branded with his name and number, [Rev] 13:16-17, are now contrasted with the followers of a Lamb marked with his name and the name of his Father. This is the ‘remnant’ of the new Israel, Is 4:3c, the faithful Christians who have survived persecution and who are to begin the restoration of God's kingdo when its enemies have been destroyed. Mount Zion is God's throne, <em>ses</em> [Rev] 21:1a.”<a href="#3"><sup>[3]</sup></a></p>
<p>Vi les, i Op 7:4 at Johannes “høyrde talet på dei som fekk seglet: Det var 144 000, frå alle ættene i Israelsfolket.” Men kvifor trur folk at dete gjeld nokon som skal bli frelst ein gong i den fjerne framtida? Jo, fordi dei les Bibelen med ei futuristisk tolking, og lar ikkje teksten tale for seg sjølv (såkalla <em>eisegese</em>). Men kva seier Kristus om endetida? Vi kan lese om dette i Matt 24, samt i parallelltekstane (Mark 13 og Luk 21). Kristus peika på tempelbygningane og sa: “Her skal ikkje liggja att stein på stein, alt skal rivast ned.” (Matt 24:2) Dette skjedde faktisk i år 70, då romarane invaderte Jerusalem og øydelagde tempelet. Og dette vart av folk rekna som verdas undergong. I einerom spurte læresveinane Kristus: “Når skal dette henda? Og kva er teiknet på di atterkome og enden på verda?” (Matt 24:3) Dette blir kanskje endå tydlegare i Luk 21:20-24:</p>
<blockquote><p>Når de ser Jerusalem kringsett av hærar, då skal de vita at byen snart blir øydelagd. Då må dei som er i Judea, rømma til fjells, dei som er i byen, må koma seg ut, og dei som er ute på landet, må ikkje gå inn i byen. For dette er straffedomens tid, då alt som står skrive, skal gå i oppfylling. Ve dei som ventar barn og dei som gjev bryst i dei dagane! For det skal bli stor naud i landet, og vreide skal ramma dette folket. Dei skal falla for sverd og førast bort som fangar til alle folkeslag. Og andre folk skal trakka Jerusalem under fot heilt til tida for heidningane er ute.</p></blockquote>
<p>Dette skjedde i år 70. Då vart Jerusalem “kringsett av hærar,” det vart “stor naud i landet” og vreide ramma Jerusalem. Scott Hahn skriv at Josefus, ein jødisk historikar, “som selv var et øyenvitne til disse ulykkene, beskriver dem på en mindre symbolsk og mer gruoppvekkende realistisk måte [enn Åpenbaringens beskrivelser]. Josefus beskriver et Jerusalem som er så herjet av hungersnød at mødrene blir gale av sult og begynner å fortære sine egne barn.”<a href="#4"><sup>[4]</sup></a></p>
<p>Kristus sa at dei i Judea som ville berga livet måtte “rømma til fjells, dei som er i byen, må koma seg ut, og dei som er ute på landet, må ikkje gå inn i byen. ” (Luk 21:21) Dei kristne jødane i Jerusalem, symbolsk representert ved dei 144 000, sparte livet på Sionsfjellet. Scott Hahn skriv:</p>
<blockquote><p>Det er et fascinerende, med ofte oversett, historisk faktum at den første kristne kirkebygning --- som stod på Sion-fjellet --- overlevde beleiringen og ødeleggelsene. I år 70 e. Kr. stod den tiende romerske legion mellom kirken på Sion og områdene som brant i Jerusalem. Den hellige Epifanius fortalte at i år 130 e. Kr., da Hadrian kom for å slå ned det andre jødiske opprøret, lå Jerusalem fortsatt i ruiner, “unntatt noen få hus og en liten kirke for Gud på det stedet hvor disiplene gikk til en sal ovenpå.”<a href="#5"><sup>[5]</sup></a></p></blockquote>
<p>Men såg ikkje Johannes Lammet stå saman med dei 144 000? Hadde Jesus allereie komme tilbake? La oss sjå litt på spørsmålet som læresveinane spurte Kristus i einerom: “Når skal dette henda? Og kva er teiknet på di atterkome og enden på verda?” (Matt 24:3) Til det fyrste spørsmålet svarte Kristus slik: “Sanneleg, eg seier dykk: Denne ætta skal ikkje forgå før alt dette hender.” (Matt 24:34) Kvifor ikkje ta Han på ordet når dette faktisk skjedde i år 70, rundt 40 år etterpå?</p>
<p>Det neste vi må ta for oss, er spørsmålet om kva som vil vere “teiknet på [Herrens] atterkome og enden på verda.” Enden på verda trur eg handlar om enden på den gamle verda. Det ser ut som om at læresveinane såg på øydeleggjinga av tempelet som nettopp “enden på verda” sjølv om dei visste at det fanst land utanfor (Rom, til dømes). For, kva er tempelet? Jo, i jødisk tankegang er tempelet eit mikrokosmos, ein modell av verda. Utanom det aller heilagste, som er eit bilete på himmelen. Vi ser dette også på øvstepresten. I Visd 18:24 står det om øvstepresten at “hele verden var avbildet på hans fotside kjortel, og fedrenes æresnavn var inngravert på de fire radene med edelstener, og diademet på hodet hans minnet om din storhet.” I fylgje Margaret Barker<a href="#6"><sup>[6]</sup></a> var dette fordi presten, lik forhenget til det høgheilage, hadde fire jordfargar innvevd i vesten. Ho skriv:</p>
<blockquote><p>Josephus and Philo agree that the four different colours from which it as woven represented the four elements from which the world was created: earth, air, fire and water. The scarlet thread represented fire, the blue was the air, the purple was the sea, that is, water, and the white linen represented the earth in which the flax had grown (War 5.212-213). In other words, <em>the veil represented matter</em>.</p></blockquote>
<p>Vidare poengterer ho, med ei tilvising til Visd 18:24, at øvstepresten wore a vestment woven from the same four colours. (...) He took off this robe when he entered the holy of holies because the robe was the visible form of one who entered the holy of holies.” Ho viser også til Hebr 10:20, der vi les at Kristus har “innvigd ein ny og levande veg for oss gjennom forhenget, som er kroppen hans.” Medan dei ‘vanlege’ øvsteprestane tok av seg det som representerte det materielle når dei gjekk inn i det høgheilage, så tok Kristus dette --- kroppen --- med seg inn i himmelen. Han er no vårt tempel, og dermed treng vi ikkje det gamle. Når dette då vart øydelagd i år 70, så var dette for mange jødar “enden på verda,” det var enden på den gamle verda der tempelet var eit mikrokosmos. Og ut av dette kom den nye.<a href="#7"><sup>[7]</sup></a></p>
<p>Men det spørsmålet frå læresveinane som er mest interessant, er nok det miderste: “Og kva er teiknet på di atterkome...?” (Matt 24:3) Dette spørsmålet gjev oss svar på kva det var Johannes såg i synet, då han såg Lammet stå saman med dei 144 000 på Sionsfjellet. Ordet som blir omsett med ‘atterkome’ er <em>parousia</em>, som vanlegvis betyr ‘nærver.’ Verset kunne blitt omsett slik: “Og kva er teiknet på ditt nærver...?” Vi kan også gjere det same med Matt 24:27. I NT05 står det: “Som når <strong>lynet</strong> går ut frå aust og lyser like til vest, slik skal de vere når Menneskesonen <strong>kjem</strong>.” Orda som her er utheva kan også omsetjast på andre måtar. Her er eit forslag: “Som når <strong>lyset</strong> går ut frå aust og lyser like til vest, slik skal de vere når Menneskesonen <strong>vert nærverane</strong>.”</p>
<p>Dette kan tolkast på forskjellige måtar. Eg trur at det fyrst og fremst handlar om nattverden, om ‘Lammets bryllaupsmåltid.’ (sjå Op 19:9) Der er Kristus reelt nærverande. Ordlyden i Matt 24:27 --- om lyset som “går ut frå aust og lyser like til vest” (som har konnotasjonar til soloppgong og solnedgong) --- kan knyttast til Mal 1:11, som tidleg vart rekna som en profeti om nattverden:</p>
<blockquote><p>For frå soloppgong til solnedgong skal mitt namn verta stort mellom heidningefolka, og på kvar ein stad skal dei brenna røykjelse og bera fram offergåver for namnet mitt, reine offergåver; for namnet mitt skal verta stort mellom folkeslaga, seier Herren, Allhærs Gud.<a href="#8"><sup>[8]</sup></a></p></blockquote>
<p>Det er altså snakk om at Kristus var nærverande på Sionsfjellet (der den fyrste kristne kyrkja var), saman med dei 144 000 som “hadde namnet til Lammet og namnet til Far hans skrive på panna.” (Op 14:1) Desse kom seg gjennom trengsla ved Kristis hjelp, spesielt ved nattverden. Dei vann over vondskapen “i kraft av blodet frå Lammet og det ordet dei vitna om; dei hadde ikkje livet sitt så kjært at dei ikkje ville gå i døden.” (Op 12:11)</p>
<p>Og dette fører meg over til neste tolking av <em>parousia</em>. Kristus er nærverande i nattverden, men han er også nærverande i oss, og reinser oss. “Men dersom vi vandrar i lyset,” skriv Johannes, “då har vi fellesskap med kvarandre, og blodet frå Jesus, [Guds] Son, reinsar oss for all synd.” (1Joh 1:7) Dette kallar vi heilaggjering, <em>theosis</em>, og det er tett knytt til nattverden. Som det står i Op 3:20: “Sjå eg står for døra og bankar på; dersom nokon høyrer mi røyst og let opp døra, så vil eg gå inn til han og halda nattverd med han, og han med meg.”<a href="#9"><sup>[9]</sup></a>. Nattverden transformerer oss. Vi, som er Kristi lekam --- Kyrkja --- blir sjølv ein evkaristi --- ei takkseiing --- som, i kraft av Heilaganden (og Lammets blod), forkynner Gud i verda, om nødvendig med ord, for å parafrasere den Heilage Frans. Då lar e Scott Hahn få siste ordet:</p>
<blockquote><p>Hvilket bilde skal vi da gjøre oss av Jesu gjenkomst? For meg er det eukaristien, og den skjer ved at messen bringer himmelen til jorden. Akkurat som den jordiske prest står over brødet og vinen og sier “Dette er mitt legeme” og dermed forvandler elementene, slik står ypperstepresten Kristus over kosmos og uttaler de samme ordene. Vi står på jorden som elementene står på alteret. Vi er her for å bli forvandlet: for at vi selv skal dø, leve for andre og elske som Gud. Det er det som skjer på det alter som er jorden, akkurat som det skjer på altrene i våre kirker. Likesom ilden fôr ned fra himmelen for å fortære ofrene på Salomos alter, slik fôr ilden ned for å opptenne disiplene ved den første pinse. Ilden er den ene og samme; det er den Hellige Ånd, som setter oss i stand til å bli frembåret som levende ofre på jordens alter.<a href="#10"><sup>[10]</sup></a></p></blockquote>
<p><span style="font-size:xx-small;"><strong>Noter og referansar:</strong></p>
<p><a title="1" name="1"></a>[1] Dersom anna ikkje vert nemnt, så bruker eg Bibelselskapets omsetjing av 2005 (NT), 1978/95 (GT) og 1988 (Dei deuterokanoniske bøkene)</p>
<p><a title="2" name="2"></a>[2] Gilbrant, Thoralf (red.) (1998 ) <em>Norsk Studiebibel</em>. Nesbyen: Bibelforlaget, s. 1655</p>
<p><a title="3" name="3"></a>[3] <em>The New Jerusalem Bible: Study edition</em>. Darton, Longman &#38; Todd, 1985/1994 s. 2043</p>
<p><a title="4" name="4"></a>[4] Hahn, Scott (2007) <em>Lammets nattverd. Messen som himmelen på jorden</em>. Oversatt av Anne Krohn. Oslo: St. Olav, s. 87</p>
<p><a title="5" name="5"></a>[5] Ibid, s. 88</p>
<p><a title="6" name="6"></a>[6] Barker, Margaret (1998 ) <a href="http://www.marquette.edu/maqom/veil">“Beyond the Veil of the Temple. The High Priestly Origin of the Apocalypses.” </a>Presidential address to the Society for Old Testament Study, Cambridge Jan. 1998 / <em>Scottish Journal of Theology</em> 51.1, 1998. (02.05.2008 )</p>
<p><a title="7" name="7"></a>[7] Det skal seiast at eg trur det er snakk om ei delvis oppfylling. Eg trur ikkje vi er fullstendig i himmelen her og no, men i messa er vi det. Eg trur også at dette kjem delvis, som er det eg skal skrive vidare om no.</p>
<p><a title="8" name="8"></a>[8] Nynorsk 1938. Språkleg oppdatert.</p>
<p><a title="9" name="9"></a>[9] Ibid</p>
<p><a title="10" name="10"></a>[10] Hahn (2007), s. 119</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Kis 1:6-11]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/28/kis-16-11/</link>
<pubDate>Mon, 28 Apr 2008 13:08:19 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/28/kis-16-11/</guid>
<description><![CDATA[Kerajaan adalah tema sentral dalam seluruh Alkitab. Pertanyaan para murid pada a.6 tentang pemulihan]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Kerajaan adalah tema sentral dalam seluruh Alkitab. Pertanyaan para murid pada <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Kis/T_Kis1.htm#1:6" title="maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel">a.6</a> tentang pemulihan kerajaan bagi Israel bukannya tidak tepat. Kerajaan yang mereka maksudkan tidak lain dari Kerajaan Allah (KA) yang dibicarakan Yesus selama 40 hari. Dalam PL, patron KA terdapat dalam taman Eden sebagai tempat di mana Allah menjadi Raja atas umat-Nya. Israel dimaksud sebagai perwujudan kembali KA itu, tetapi gagal. Berbagai nabi mengharapkan pemulihan Israel sebagai inti dari pemulihan seluruh dunia (mis. <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes2.htm#2:1" title="segala bangsa akan berduyun-duyun ke (Yerusalem)">Yes 2:1-4</a>). Jadi, Yesus tidak membantah pertanyaan mereka, melainkan mengarahkannya ulang (a.7-8a). Pemulihan Israel yang diawali dengan seruan Yohanes Pembaptis untuk bertobat akan berpuncak dengan pencurahan Roh Kudus, janji Bapa itu (a.5, seperti dalam <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yoe/T_Yoe2.htm#2:28" title="Nubuat tentang pencurahan Roh Kudus">Yoel 2:28-32</a> yang dikutip Petrus pada hari Pentakosta, sepuluh hari kemudian).</p>
<p>Dengan demikian ada tugas bagi para murid Yesus sebelum mereka duduk di atas takhta menghakimi Israel (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Luk/T_Luk22.htm#22:30" title="kamu akan duduk di atas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel">Lk 22:30</a>)! Oleh kuasa Roh Kudus mereka akan menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Itulah bentuk KA untuk sementara (sampai Dia kembali dengan mulia). Yesus naik ke sorga sebagai <span style="font-style:italic;">kurios</span> (penguasa tertinggi) dan Kristus (Raja dan Juruselamat Israel yang dijanjikan PL). Dia memerintah melalui umat-Nya yang bersaksi tentang Dia, sehingga bangsa-bangsa bertobat dan tunduk kepada-Nya sebagai Raja—dengan sukarela karena diyakinkan oleh Roh, bukan karena dipaksakan. Seluruh kitab Kisah Para Rasul memberi kita gambarannya. Cara gereja hidup bersama, bersaksi oleh kuasa Roh dan mengikuti tuntunan Roh menerapkan makna Yesus sebagai Raja.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mt 25:31-46 Anak Manusia]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/24/mt-2531-46-anak-manusia/</link>
<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 13:32:07 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/24/mt-2531-46-anak-manusia/</guid>
<description><![CDATA[Perikop yang terkenal ini pertama-tama mengenai Kristus, kemudian tentang Injil kerajaan, baru kemud]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Perikop yang terkenal ini pertama-tama mengenai Kristus, kemudian tentang Injil kerajaan, baru kemudian tentang bagaimana kita hidup (etika). Tafsiran itu tidak berarti bahwa etikanya tidak penting. Sebaliknya, tafsiran itu menjaga supaya jangan etikanya menjadi usaha mandiri atau usaha yang mencari imbalan dari Tuhan.</p>
<p><!--more-->
<p>Perikop ini adalah puncak dari <a href="http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/22/mt-24-bait-allah-dirobohkan/" title="Bait Allah dirobohkan">wacana Yesus</a> dalam <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat24.htm#24:1">pp.24-25</a> kepada murid-murid-Nya pas sebelum Dia akan diadili dan disalibkan. Yesus sebagai Anak Manusia ala <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Dan/T_Dan7.htm#7:13">Dan 7:13-14</a> duduk di atas takhta-Nya (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat25.htm#25:31" title="Perumpamaan tentang pemisahan domba dan kambing">25:31</a>) dan menerapkan penghakiman terakhir. Sama seperti dalam Daniel 7 dan PL secara umum, penghakiman itu menerapkan keadilan yang kelihatan tertunda dalam dunia ini, sekaligus membuang semua yang tidak layak bagi Kerajaan sebagai warisan umat Allah (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat25.htm#25:34" title="kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan">34</a>, "terimalah" lebih harfiah "warisilah"). Jadi, perumpamaan ini memberi tahu masa depan dunia yang sebenarnya. Bukan menjadi PNS melalui korupsi dan menginjak-injak sesama yang memiliki masa depan yang gemilang, melainkan kepedulian terhadap yang lemah.</p>
<p>Namun, ternyata Sang Mulia itu terdapat justru di dalam yang lemah (40, 45). Suatu wujud muncul dalam tahap berikut dalam Injil Matius, yakni kematian Yesus. Anak Manusia harus segera disalibkan sebelum Dia akan diberi "segala kuasa di sorga dan di bumi". Dia menempuh jalan kelemahan sampai ujungnya. Saya rasa ada ketegangan di sini. Kadangkala gereja hanya ingin Kristus Pemenang sebagai penjamin usahanya. Tetapi sebaliknya Kristus yang hanya lemah tidak bisa menjamin menangnya Kerajaan Allah sebagai tempat berkat. Perumpamaan ini berbicara tentang Kristus Pemenang yang ditaati dan ditemui dalam pelayanan bagi sesama dalam kelemahannya.</p>
<p>Perumpamaan ini mengandung kejutan. Pendengar perumpamaan terkejut dengan gambaran Yesus yang mulia dan lemah. Pendengar di dalam perumpamaan terkejut dengan keputusan Sang Hakim. Mereka tidak sangka ("melihat") kalau Yesus terdapat di dalam orang lemah. Hal itu penting. Tindakan "para domba" bukan amal untuk mendapatkan sorga, melainkan penyataan kasih. Kasih adalah buah yang menunjukkan baik buruknya orangnya (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat12.htm#12:33" title="Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya">Mt 12:33</a>), apakah dia sungguh bertobat menerima Kerajaan Allah atau hanya berpura-pura (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat7.htm#7:21" title="Tuhan, Tuhan!">Mt 7:21-23</a>). Yesus memaparkan suatu cermin untuk kita merenungkan apakah kita telah bertobat dan apakah kita berbuah sebagaimana semestinya.</p>
<p>Di situlah etikanya. Kasih yang sejati adalah kasih yang praktis, yang melihat dan meresponsi kebutuhan riil orang hina sekalipun. Tetapi barangkali kita termotivasi untuk melakukannya bukan dengan ancaman untuk beramal, melainkan untuk berjumpa dengan Yesus yang mulia sekaligus rendah.</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Mt 24 Bait Allah dirobohkan]]></title>
<link>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/22/mt-24-bait-allah-dirobohkan/</link>
<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 13:56:12 +0000</pubDate>
<dc:creator>abuchanan</dc:creator>
<guid>http://tomentiruran.wordpress.com/2008/04/22/mt-24-bait-allah-dirobohkan/</guid>
<description><![CDATA[Bait Allah menjadi sentrum agama Israel karena Allah hadir di dalamnya. Namun, anugerah itu dijimatk]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Bait Allah menjadi sentrum agama Israel karena Allah hadir di dalamnya. Namun, anugerah itu dijimatkan oleh Israel, maksudnya hadirat Allah dihargai karena perlindungan-Nya, bukan dihargai sebagai kesempatan untuk berelasi dengan-Nya sebagai umat-Nya yang kudus. Sikap itu banyak dikecam oleh para nabi (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yer/T_Yer7.htm#7:1" title="Perbaikilah perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama...">Yer 7</a> termasuk perikop yang terkenal). Akhirnya, pada abad ke-6 sM, Bait Allah serta seluruh Yerusalem <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/2Ra/T_2Ra25.htm" title="2 Raj 25">dihancurkan</a>.</p>
<p>Setelah menyucikan Bait Allah (p.21) dan mengencam pimpinan Yahudi (p.23), Yesus di sini menubuatkan bahwa Bait Allah akan dihancurkan kembali. Murid-murid Yesus, dengan tepat, menafsir perkataan Yesus itu sebagai nubuatan tentang akhir zaman. Para nabi PL melihat datangnya Mesias terkait erat dengan akhir zaman (seperti <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/T_Yes9.htm#9:6" title="Sebab seorang anak telah lahir untuk kita...">Yes 9:6-7</a>). Namun, pendirian Kerajaan Allah yang dipersoalkan dalam pp.24-25 ini lebih baik dilihat dalam tiga tahap: yang pertama kenaikan Yesus, yang kedua kehancuran Yerusalem, dan yang ketiga ketika Yesus datang kembali. Pencampuran tahap demikian biasa dalam nubuatan PL, dan sering diibaratkan dengan pegungunan, di mana dua puncak (kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua) nampak berdekatan padahal sebenarnya jauh di antaranya.</p>
<p><!--more-->
<p>Yesus bercerita tentang suatu masa krisis yang di dalamnya ada berbagai gejolak termasuk Mesias palsu, perang, bencana alam dan penganiayaan (aa.5-11) sehingga ada pembedaan antara murid yang sejati dan yang bersifat sementara saja (aa.12-13). Namun, di tengah semuanya ada pemberitaan Injil (a.14). Kemudian, krisis itu akan berpuncak dan diakhiri dengan kedatangan (<span style="font-style:italic;">parousia</span>) Anak Manusia yang akan mengumpulkan orang pilihan-Nya (a.27-31). Bagian itu merujuk pada <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Dan/T_Dan7.htm#7:13">Daniel 7:13-14</a>, tempat Anak Manusia menerima kerajaan Allah. Perumpamaan-perumpamaan yang berikut menegaskan perlunya bersiap.</p>
<p>Memang banyak di dalamnya yang cocok dengan masa akhirat. Hanya, bagaimana dengan aa.15-20? Apa salahnya hamil pada masa akhirat (a.20)? Ayat-ayat ini paling cocok dengan perang menjelang kehancuran Yerusalem oleh tentara Romawi (70 M.). yang notabene lambangnya adalah burung nazar (a.28). Kalau begitu, pembinasa keji (a.15, keji karena najis) merujuk pada lambang Romawi yang dipasang di luar Bait Allah dan disembah tentara Roma pada masa pengepungan Yerusalem. Kehancuran Yerusalem membuktikan Yesus sebagai penerima sejati Kerajaan Allah, pada masa angkatan Yesus sendiri (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat24.htm#24:34" title="Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya ini terjadi">Mt 24:34</a>).</p>
<p>Cukup banyak penafsir yang sudah puas dengan melihat pasal ini sebagai nubuatan Yesus tentang kehancuran Yerusalem dan masa akhirat, dan dengan demikian segala waktu di antaranya di mana ada bencana alam dan penganiayaan termasuk Indonesia sekarang. Tetapi usulan lagi ialah Yesus juga merujuk pada penyaliban serta kebangkitan dan kenaikan-Nya. Mengapa?</p>
<p><a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat26.htm#26:61" title="Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari">Matius 26:61</a> dan <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat27.htm#27:40" title="Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci">27:40</a> merujuk pada perkataan Yesus bahwa Dia akan membangun Bait Allah yang dirohohkan dalam tiga hari. Hal itu diperjelas oleh Injil Yohanis (<a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yoh/T_Yoh2.htm#2:21">2:21</a>), yakni bahwa Yesus merujuk pada tubuh-Nya sendiri. Nah, bukankah penyaliban Yesus adalah pembinasaan yang paling najis (a.15), penanggungan dosa manusia oleh Anak Manusia siksaan yang terdahsyat (a.21)? Kalau demikian, maka Yesus sendiri pada pengadilan-Nya telah merintis jalan diserahkan dsb tetapi tetap bertahan (aa.9-13). Kemudian, pada kebangkitan-Nya segala kuasa di sorga dan di bumi diberikan kepada-Nya (Mt 28:20), sehingga seperti dalam Dan 7:13-14 Dia naik ke sorga untuk menerima kerajaan. Sebagai Tuhan (<span style="font-style:italic;">kurios</span>, raja tertinggi) Dia menyuruh utusan-utusan (<span style="font-style:italic;">anggelos</span> dapat berarti malaikat atau utusan) untuk mengumpulkan umat-Nya lewat pemberitaan. Baru pada <a href="http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Mat/T_Mat25.htm#25:31" title="Perumpamaan tentang pemisahan domba dan kambing">25:31</a> kita melihat gambaran yang jelas merujuk pada penghakiman terakhir.</p>
<p>Tafsiran ganda ini memahami bahwa Yesus berbicara tentang akhir zaman lama <span style="font-style:italic;"><span style="font-style:normal;">yang dirintis dalam kematian dan kebangkitan-Nya, tetapi berlangsung sampai Dia datang kembali. Dia sendiri melalui masa penderitaan, dan pada setiap masa umat-Nya juga harus bertahan menghadapi gejala-gejala dunia yang belum dipulihkan.</span></span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[En elak hypotes]]></title>
<link>http://katholou.wordpress.com/?p=38</link>
<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 17:49:21 +0000</pubDate>
<dc:creator>David Heith-Stade</dc:creator>
<guid>http://katholou.wordpress.com/?p=38</guid>
<description><![CDATA[Efter att ett tag undrat över varför protestantiska (man kan hävda att England inte var riktigt p]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Efter att ett tag undrat över varför protestantiska (man kan hävda att England inte var riktigt protestantiskt före Cromwell) länder inte gör revolution så är min elaka hypotes följande:</p>
<p>I protestantiska länder har man predikat och lärt ut att människan är fullkomligt förtappad och fördärvad och därför inte alls kan bidra till sin egen fullkomning (antingen p.g.a. dubbel predestination eller p.g.a. den trälbundna viljan), så har folket fått lära sig att de kan inte kreativt och spontant medverka eller samverka (synergi) på något sätt för att uppnå fullkomlighet, utan det är "nåden allena" (eller i det sekulariserade paradigmet "staten allena"), som fullkomnar människan, och därför gör inte protestantiska länder revolution.</p>
<p>I ortodoxa och katolska länder däremot har man haft helgon och en spiritualitet som framhävt människan såsom fritt delaktig i sin egen fullkomning, istället för att vara ett fullkomligt fördärvat objekt underkastat nåden (eller i våra dagar staten), är hon ett fritt och kreativt subjekt som hängivet samverkar med nåden till sin egen fullkomning.</p>
<p>Visserligen är marxismen väldigt kalvinistisk i sin predestinationslära ("det historiskt ofrånkomliga"), men ryska revolutionen stred mot marxismens teori, liksom även kinesiska revolutionen, varför Lenin och Mao var tvungna att tillföra ett mer klassiskt kristet element till marxismen i form av människans spontana medverkan ("det spontana i klasskampen" som KFML(r) talade om) till den dialektiska utvecklingen, eller enligt leninismen att människan kan påverka utvecklingen. Lenin är egentligen ganska lik Paulus i sin eskatologi ("redan nu, men ännu inte"), eftersom man håller fast vid det historiskt ofrånkomliga, men likväl hävdar att människan fritt kan påverka och samverka med det historiskt ofrånkomliga (synergism).</p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Left Behind?]]></title>
<link>http://katolikken.wordpress.com/2007/09/04/left-behind/</link>
<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 02:12:38 +0000</pubDate>
<dc:creator>Kjetil Kringlebotten</dc:creator>
<guid>http://katolikken.wordpress.com/2007/09/04/left-behind/</guid>
<description><![CDATA[Eg har ikkje brydd meg noko spesielt med den såkalla &#8220;Left Behind&#8221;-teologien (heretter:]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p>Eg har ikkje brydd meg noko spesielt med den såkalla "Left Behind"-teologien (heretter: LBT),<a href="#1"><sup>1</sup></a> men eg synst at det er på tide å seie litt om den.</p>
<p>Eg har eit par problem med denne læra. Eg vil ta for meg nokre problem med dette, i i sju (åtte) punkt;</p>
<p><span style="font-size:x-small;"><a href="#frukt">1. Nokre av fruktene bak teologien</a></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="#tidspunkt">2. Tidspunktet som teologien oppstod</a></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="#amillenialisme">3. Amillenialisme</a></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="#post-trengsle">4. Opprykking etter trenglsa</a></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="#ikkje-lineær">5. Ikkje-lineær historieskriving</a></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="#bibelstader">6. Nokre bibelstader</a></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="#liturgi">7. Liturgi og gudsteneste</a></span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="#konklusjon">Kort konklusjon</a></span></p>
<p>konklusjon<br />
<a title="frukt" name="frukt"></a><span style="font-size:medium;"><strong>1. Nokre av fruktene bak teologien</strong></span></p>
<p>Det fyrste eg vil påpeike, er ei av fruktene bak denne teologien, spelet <em>Left Behind: Eternal Forces</em>. Dette <a href="http://katolikken.wordpress.com/2006/12/15/omvend-eller-drep/" target="_blank">har eg allereie skrive om</a>, og det er noko av det sjukaste eg har vore borti frå fundamentalistisk kristendom.</p>
<p>Eit anna problem med dette teologien er den "redd seg sjølv"-mentaliteten som ligg bak. Det er ikkje så viktig kva som skjer med andre, så lenge du har "sikra deg plass" før. Dette meiner eg i seg sjølv er ukristeleg.</p>
<p><a title="tidspunkt" name="tidspunkt"></a><span style="font-size:medium;"><strong>2. Tidspunktet som teologien oppstod</strong></span></p>
<p>Denne læra er det vi med rette kan kalle "nymotens." Det vart ikkje lært bort (i den form vi kjenner det, i alle fall) før på 1800-talet med John Darby og the Plymouth Brethren. Rart at dei berre brått "oppdaga" noko som hadde gått alle kristne før dei hus forbi (eg tar opp det dei oppdaga i <a href="#bibelstader">punkt 6</a>.) Bibelen seier sjølv at den ikkje er den endelege autoritet på kristen lære, men peiker på kyrkja. Paulus skriv. "Dette skriv eg til deg, endå eg håpar å koma til deg om ikkje så lenge. Men skulle det dryga, vil eg du skal vita korleis ein skal ferdast i Guds hus, som er den levande Guds forsamling, <strong>søyle og grunnvoll for sanninga</strong>." (1Tim 3:14f, mi utheving)<a href="#2"><sup>2</sup></a> Og kvifor finn vi då ikkje noko om dette hjå tidlege kristne? Kvifor skal vi brått tru på dette på 1800-talet?</p>
<p><a title="amillenialisme" name="amillenialisme"></a><span style="font-size:medium;"><strong>3. Amillenialisme</strong></span></p>
<p>Eg er nok det ein kan kalle for ein amillenialist, dvs. at eg trur at dei tusen åra som er beskrive i Johannes's Openberring er symbolsk å forstå --- det betyr rett og slett <em>svært lenge</em>, mest sannsynleg evig. Eg trur også at vi godt kan bruke uttrykket <em>rapture</em>, men i sin <a href="http://dictionary.reference.com/browse/rapture" target="_blank">leksikalske meining</a>. Grunndefinisjonen er "ecstatic joy or delight; joyful ecstasy" eller "[t]he state of being transported by a lofty emotion; ecstasy." Altså kunne ein (på bokmål) seie at vi blir "henrykt." Og dette trur eg vi kan ha del i allereie no, noko som det finst godt bibelsk grunnlag for, mellom anna i Efesarbrevet 2. I fyrstnemnde står det at Gud gjorde "oss levande saman med Kristus, vi som var døde på grunn av misgjerningane våre. Av nåde er de frelste. I Kristus Jesus har han både reist oss opp frå døden med han og sett oss i himmelen med han, så han i dei komande tider kunne visa kor overstrøymande rik han er på nåde og kor god han er mot oss i Kristus Jesus." (Ef 2:5-7) Vi er altså allereie sett i himmelen med Kristus. Dette finn vi også grunnlag for i Luk 17, der Kristus seier:</p>
<blockquote><p>Guds rike kjem ikkje på den måten at ein kan sjå det med augo. De skal heller ikkje seia: Sjå her eller der er det. For sjå, Guds rike er <strong>inni dykk</strong>. (Luk 17:20f, mi utheving)<a href="#3"><sup>3</sup></a></p></blockquote>
<p>Eg vil også sjå litt på Matt 24:26-27. Der står det:</p>
<blockquote><p>Seier dei då til dykk: 'Han er ute i øydemarka', så gå ikkje dit, eller: 'Han er i eit rom der inne', så tru det ikkje. Som når lynet går ut frå aust og lyser like til vest, slik skal det vera når Menneskesonen kjem.</p></blockquote>
<p>Uttrykket som her blir omsett med "lyn," <em>astrape</em>, blir i Luk 11:36 omsett med lys: "Er no alt i kroppen din lys og ingen del av han mørk, då blir alt lyst, som når ei lampe lyser på deg med strålane sine." Vidare det som blir omsett med "når Menneskesonen kjem" omsetjast slik "ved Menneskesonens tilsynekomst."</p>
<p>Dersom vi justerer for dette, så kan Matt 24:27 omsetjast slik: "Som når lyset (<em>astrape</em>) går ut frå aust og lyser (<em>phanetai</em>) like til vest, slik skal det vera ved Menneskesonens tilsynekomst (<em>parousia</em>)."</p>
<p>Når ein justerer for slike ting, så blir fokuset flytta frå Kristi plutselege tilbakekomst, til den gradvise openberring i dei kristne, ved heilaggjeringa, som ein soloppgang. Det er delvis på bakgrunn av dette at eg meiner at LBT er feil. Læra om bortrykkinga vart jo heller ikkje "almennkjend" før på 1800-talet.</p>
<p>Kva viss Jesu tilsynekomst heller er ei verdsvid manifestasjon av han gjennom Kyrkja, det seg vere katolikkar, lutheranarar, baptistar, karismatikarar, etc? At Kyrkja i sanning manifesterer seg som det sakrament som skal huse ein frelst menneskeskare?</p>
<p>Eg seier ikkje at Kristus ikkje skal komme att, men at det er eit dobbel nivå her. Som eg påpeika oppfor, så er vi allereie sett i himmelen med Kristus (Ef 2:8.) Er vi "bokstavleg" saman med Kristus i himmelen no? Nei, det er vi ikkje. Desse bibelstadane viser til vår tilstand no, ein tilstand der vi er "løfta opp" i foreining med Kristus. Vi får "del i guddomleg natur" (2Pet 1:4) gjennom Kristi verk, og ved Den Heilage Ande, her og no, ikkje utelukkande i framtida. Eit døme kan vere uttrykket "å vere i den sjuande himmel." Det er eit biletleg uttrykk, ikkje ei kjennsgjerning. Det beskriv ei sjeleleg tilstand!Denne sjelelege tilstand er foreining med Gud. Målet for det kristne liv er å få dette --- heilaggjeringa.</p>
<p>Eg trur at Kristus kjem til å komme tilbake, men eg trur også at vi kan sjå dette gradvis i kristne, gjennom theosis.</p>
<p><a title="post-trengsle" name="post-trengsle"></a><span style="font-size:medium;"><strong>4. Opprykking etter trenglsa</strong></span></p>
<p>Eg trur at om det er ei opprykking av kristne, så skjer dette etter den store trengsla. Kvifor skal vi sleppe unna trengsla? Har ikkje Kristus sagt at vi skal ha trengsle? At vi skal bli forfølgde?</p>
<p><a title="ikkje-lineær" name="ikkje-lineær"></a><span style="font-size:medium;"><strong>5. Ikkje-lineær historieskriving</strong></span></p>
<p>Slik eg les Johannes' Openberring, så ser det ikkje ut til å vere noko lineær historieskriving. Ting hoppar fram og tilbake; vi er vitne til ting som allereie har skjedd (mellom anna Kristi fødsel og djevelens fall frå himmelen) og ting som skal skje. Eg trur at dette delvis er fordi at vi ikkje skal spekulere for mykje, og for at vi ikkje skal vere så skråsikre i våre "utrekningar." Kristus seier jo sjølv at vi ikkje veit dette, at berre Faderen kjenner til det, og vi ser nokre av fruktene i Jehovas Vitner.</p>
<p><a title="bibelstader" name="bibelstader"></a><span style="font-size:medium;"><strong>6. Nokre bibelstader</strong></span></p>
<p>Eg vil her sjå på fire bibelstader, der dei to fyrste blir brukt flittig av folk som forsvarer LBT. Dei to fyrste seier:</p>
<blockquote><p>"Som det var i Noahs dagar, så skal det vera når Menneskesonen kjem. I tida før storflaumen åt og drakk dei, gifte seg og vart bortgifte, heilt til den dagen då Noah gjekk inn i arka, og ingen skjøna noko før flaumen kom og tok dei alle. Slik skal det òg vera når Menneskesonen kjem. Då skal to menn vera ute på marka; éin blir henta, éin blir att. To kvinner skal mala saman på kverna; éi blir henta, éi blir att." (Matt 24:37-41)</p>
<p>"Dette seier vi dykk med eit ord frå Herren: Vi som enno lever og blir att her heilt til Herren kjem, skal slett ikkje koma før dei som har sovna inn. For når det bydande ropet lyder, når erkeengelen lyfter si røyst og Guds basun ljomar, då skal Herren sjølv stiga ned frå himmelen, og dei døde i Kristus skal først stå opp. Så skal vi som har vorte att og enno lever, rykkjast bort saman med dei i skyene og møta Herren i lufta. Og så skal vi alltid vera saman med Herren." (1Tess 4:15-17)</p></blockquote>
<p>Teksten frå Matteus er vel den teksten som er mest misforstått innanfor LBT. Fyrst samanliknar Kristus endetida med Noahs dagar, der Noah om familien vart att, medan dei ugudelege vart tatt bort. Kvifor skulle han då brått snu om i neste setning? Det kjem klart fram av konteksten at den som vert "rykt bort" ikkje er dei frelse, men dei fortapte. Altså er det ikkje snakk om noko "opprykking" til himmelen i Matt 24, men ei borttaking.</p>
<p>Teksten frå 1Tess er endå meir interessant. Den kan sjølvsagt tolkast på fleire måtar, men eg vel å halde meg til den tolkinga som vart hald fast på av dei tidlege kristne --- nemleg at dette er eit bilete på at vi tar imot Kristus med glede. I den historiske konteksten brevet er skrive i, så var det svært vanleg at dersom ein sigrande konge kom tilbake så ville folk (dei som var glad at han var tilbake) gå ut av byen og møte han, for så å gå inn i prosesjon saman med han. Dette er ikkje uvanleg i våre dagar heller. Folk møter opp når kongar og presidentar kjem heim med fly, og folk kjem sine kjære imøte når dei kjem tilbake frå ein lengre tur. Det er slik eg trur vi må tolke teksten.</p>
<p>Vidare så knuser denne teksten tanken om ei opprykking før trengsla, som dannar grunnlaget for LBT. For det står at "dei døde i Kristus skal først stå opp." Men kortid skal dei stå opp? Jo, her kjem den tredje teksten inn, Joh 6.</p>
<blockquote><p>For eg er ikkje komen ned frå himmelen for å gjera det eg sjølv vil, men det han vil, han som sende meg. Og det han vil, han som sende meg, er at eg ikkje skal mista nokon av alle dei han har gjeve meg, men <em>reisa dei opp på <strong>den siste dagen</strong></em>. For det vil Far min, at kvar den som ser Sonen og trur på han, skal ha evig liv, og eg skal <em>reisa han opp på <strong>den siste dagen</strong></em>... Ingen kan koma til meg utan at Far som sende meg, dreg han, og eg skal <em>reisa han opp på <strong>den siste dagen</strong></em> (Joh 6:38-40.44, mine uthevingar)</p>
<p>Sanneleg, sanneleg, eg seier dykk: Dersom de ikkje et kroppen til Menneskesonen og drikk blodet hans, har de ikkje livet i dykk. Den som et min kropp og drikk mitt blod, har evig liv, og eg skal <em>reisa han opp på <strong>den siste dagen</strong></em>. For kroppen min er sann mat, og blodet mitt er sann drikk. (Joh 6:53-55, mi utheving)</p></blockquote>
<p>Altså skal dei "døde i Kristus" reisast opp på <em>den siste dagen</em>, og dei er dei fyrste som skal rykkast opp.</p>
<p><a title="liturgi" name="liturgi"></a><span style="font-size:medium;"><strong>7. Liturgi og gudsteneste</strong></span></p>
<p>Dei tidlege kristne forstod at Johannes' Openberring inneheld ting om dei siste tidene. Men for dei var dette hovudsakleg eit liturgisk dokument. Eg har <a href="http://katolikken.wordpress.com/2007/04/22/551/" target="_blank">allereie skrive litt om dette</a>, og vil sitere eit utdrag frå den posten:</p>
<blockquote><p>Eg trur at Openberringsboka hovudsakleg er eit liturgisk verk --- og at liturgien handlar om å leve for Kristus. Ja, boka fortel mykje om ting som har skjedd, som skjer og som skal skje. Men boka er hovudsakleg eit liturgisk dokument. La oss lese... Op 5:11-14:</p>
<blockquote><p>Og eg såg, og eg høyrde røysta av dei mange englane som stod omkring trona, og dei fire skapningane og dei eldste --- det var ein uendeleg flokk, i titusental. Dei ropa med høg røyst: <em>Verdig er Lammet som vart slakta, verdig til å få all makt og rikdom, visdom og styrke, ære og pris og takk</em>. Og kvar skapning i himmelen og på jorda og under jorda og på havet, ja, alt som finst der, høyrde eg seia: <em>Han som sit på trona, han og Lammet vere takk og ære, pris og makt i all æve</em>. Dei fire skapningane svara: “Amen.” Og dei eldste kasta seg ned og tilbad.</p></blockquote>
<p>(...)</p>
<p>Johannes gjorde ei slags "himmelreise" --- [han] skuer inn i ein annan røyndom, og den blir formidla tilbake til oss med ord. Vi finn dette igjen i nattverdsliturgien, mellom anna i DNK. I byrjinga ber presten:</p>
<blockquote><p><em>Liturgen:</em> Herren vere med dykk.<br />
<em>Kyrkjelyden:</em> Og med deg vere Herren.<br />
<em>Liturgen:</em> <strong>Lyft dykkar hjarto.</strong><br />
<em>Kyrkjelyden:</em> <strong>Vi lyfter våre hjarto til Herren.</strong></p></blockquote>
<p>Her ber presten oss rett og slett om å ta ei himmelreise --- og vi svarer bekreftande på det. Deretter messer presten ei lang, vakker bøn, og ber oss om å ta del i englesongen:</p>
<blockquote><p><em>Liturgen:</em> ...Ved han lovsyng englane din herlegdom, og di kyrkje i himmelen og på jorda prisar ditt namn med samrøysta jubel. Med dei vil vi også blanda våre røyster og tilbedande syngja.<br />
<em>Kyrkjelyden:</em> <strong>Heilag, heilag, heilag er Herren Sebaot, all jorda er full av hans herlegdom.</strong> Hosianna i det høgste. Velsigna vere han som kjem i Herrens namn. Hosianna i det høgste.</p></blockquote>
<p>Kvifor tar eg fram dette i dag? Jo, fordi det er det vi gjer i liturgien --- vår lovsong, vår hyllest til Kristus --- er nettopp å fylgje Kristus. Grunnen til at apostlane vart piska, til at folk blir forfylgd den dag i dag, er fordi ein vedkjenner at Kristus er Gud, og at vi tilbed Lammet som vart slakta frå verda vart grunnlagd (Op 13:8).</p></blockquote>
<p><a title="konklusjon" name="konklusjon"></a><span style="font-size:medium;"><strong>Kort konklusjon</strong></span></p>
<p>Eg vil kort konkludere at LBT fell både basert på Bibelen og på Kyrkja sin Tradisjon. Difor vil eg avslutte dette rett og slett ved å sitere konklusjonen frå artikkelen <a href="http://www.reformedonline.com/view/reformedonline/rapture.htm" target="_blank">"Is the Pretribulation Rapture Theory Biblical?"</a> som er skrive av Brian M. Schwertley:</p>
<blockquote><p>Although the pretribulation rapture theory is very popular today, given arguments that are offered in support of this doctrine we must declare Pretribulationalism to be contrary to the clear teachings of Scripture. Simply put, there is not one shred of evidence that can be found in the Bible to support the pretribulation rapture. The typical Pretribulational arguments offered reveal a pattern: of imposing one's presuppositions onto a text without any exegetical justification whatsoever; of finding subtle meaning between words and/or phrases that were never intended by the author; of spiritualizing or ignoring passages that contradict the Pretribulational paradigm; and, of imposing Pretribulationalism upon passages that actually teach the unity of the eschatological complex (i.e., the rapture, second coming, general resurrection, and general judgment all occur on the same day---the day of the Lord). It is our hope and prayer that professing Christians would cast off this escapist fantasy and return to the task of personal sanctification and godly dominion.</p></blockquote>
<p><span style="font-size:xx-small;"><strong>Noter &#38; referansar</strong></span></p>
<p><span style="font-size:xx-small;"><a title="1" name="1"></a>1. Det er vel strengt tatt ikkje heilt korrekt å kalle dette for <em>"Left Behind"-teologien</em>, men eg bruker dette uttrykket fordi mange kjenner til dette hovudsakleg gjennom bokserien <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Left_Behind" target="_blank"><em>Left Behind</em></a>.</span></p>
<p><span style="font-size:xx-small;"><a title="2" name="2"></a>2. Dersom anna ikkje blir nemnt, så er alle skriftreferansar til Bibelselskapet sine utgåver av 1978/85 (protestantisk GT), 1988 (Dei deuterokanoniske bøkene) og 2005 (NT.)</span></p>
<p><span style="font-size:xx-small;"><a title="3" name="3"></a>3. Frå Norsk Bibel si omsetjing av 1988 (nynorsk utgåve, 1994.)</span></p>
]]></content:encoded>
</item>
<item>
<title><![CDATA[Anarkens livs-form(er)]]></title>
<link>http://enbris.wordpress.com/2007/09/01/essaer/</link>
<pubDate>Sat, 01 Sep 2007 13:54:50 +0000</pubDate>
<dc:creator>iammany</dc:creator>
<guid>http://enbris.wordpress.com/2007/09/01/essaer/</guid>
<description><![CDATA[Viktigt: I en ansats att begripa anarkens livs-form(er) känns det viktigt att läsa Mårten Björks]]></description>
<content:encoded><![CDATA[<p><i>Viktigt</i>: I en ansats att begripa anarkens livs-form(er) känns det viktigt att läsa Mårten Björks tre essäer <a href="http://ohnmacht.wordpress.com/2007/07/17/carl-schmitt-och-varldens-hemlighet/">Carl Schmitt och världens hemlighet</a>, <a href="http://caveforspositionnr3nyasvartafanor.blogspot.com/2007/08/mrten-bjrk-cavefors-varhelst-utom.html">Varhelt utom världen</a> och <a href="http://ohnmacht.wordpress.com/2007/08/13/opposition-ar-samarbete/">Opposition är samarbete</a>.</p>
<p><img src="http://content.answers.com/main/content/wp/en/thumb/b/b5/200px-Duerer-apocalypse.png" align="left" height="276" hspace="5" vspace="5" width="200" /><i>Hemligheten</i>: Undergången är här, men som hemlighet. Eskatologin är världens hemlighet. Vad betyder det här? Det är politikens förintelse, laglösheten. Eskatologin "upplåter ett utrymme som underminerar varje stat och vän-fienderelation"; kärleksbudet är det eskatologiska bidandet och avkallet.</p>
<p><i>Politik</i>: Distinktionen mellan vän och fiende definierar det politiska. Kärleksbudet förintar politiken.</p>
<p><i>Ressentiment</i>: Det förefaller för mig som att kärleksbudet och övervinnandet av ressentimentet är ett och samma undandragande från politiken och världen med dess "reaktiva och identitära slavlogik".</p>
<p><i>Kärlek</i>: Eller är kärleksbudet mer radikalt än så? Om övervinnandet av ressentimentet blott är avkastandet av förbittringens och den reaktiva slavmoralens ok — är kärleksbudet något <i>mer</i>?</p>
<p><i>Bidande/avkall</i>: Vad betyder det här: bidande och avkall? Är det att leva som om denna värld inte bekommer en? Som om man inte vore av denna värld?</p>
<p><i>Utsida</i>: Inte av denna värld. Det finns en sorts suveränitet i oviljan, vägran, oförmågan att "identifiera sig själv genom andra, genom vänner och fiender". Stirners Egoist spökar här; egoisten som slängt av sig alla spöken och ser den andre i sig själv, som upptäcker att egot pekar ut, mot utsidan, "mot det som inte hör livet till."</p>
<p><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b6/Dawn_in_Borneo.jpg/800px-Dawn_in_Borneo.jpg" align="middle" height="296" width="398" /></p>
<p><i>Exempel</i>: "Cavefors skär ut en bit tillvaro av världen för att exemplifiera ett liv som är i men inte av världen. Ett liv där mening inte längre kan fästas vid fakta emedan vitt endast är vitt och svart svart, varken överlägset eller underlägset – oförmöget att sammanjämkas, jämföras eller värderas. Men paradoxalt nog alltid bestämt att beblandas; gränser förlorar sin relevans emedan det betydelsefulla är det egna och den legio av roller som egenheten omfattar."</p>
<p><i>Disciplin</i>: Cavefors utvecklar en genuin självdisciplin för att hålla denna naturkraft på stången. "Detta ger honom styrka för själv och kropp att tåla påfrestningarna när kåthet och längtan driver Jaco och honom till excesser och njutningar."</p>
<p><i>Måttlös</i>: Inte hämningslös, dekadent. "Det är inte så att den måttlöse är ovetande om lagen, inte heller är det så att han eller hon blott ställer sig mot den; det är snarare så att den måttlöse helt och håller misskänner den". (<a href="http://enbris.wordpress.com/2006/12/07/allmanna-intellekt/">Virno</a>)</p>
<p><img src="http://www.tidningenkulturen.se/images/stories/Material_nr11/Portratt/paris_1942.jpg" align="right" height="300" hspace="5" vspace="5" width="270" /><i>Makten</i>: "Anarken vill sig själv." Anarken lösgör sig från det identitära spelet. Vändningen riktar sig bort från makten och motståndet (för även "opposition är samarbete") — mot det yttre, utsidan.</p>
<p><i>Stil</i>: Hos Jünger finner vi — hitom demarkationslinjen i hans <i>ouvre</i> — "jakten på en stil som pekade bortom gestalternas immanens emedan stilen vittnade om en större strukturell plan än gestalens." Det rör sig om en stil som står i anslutning till en yttre dimension, "ett fält av ren exterioritet" (<a href="http://geocities.com/insurrection_raven/se_texts/deleuze_nomadtankande.html">Deleuze</a>) ”som om och om igen tränger sig fram ur den sega historiska massan upp mot ytan”. Stilen, en slags projektuell krigsmaskin.</p>
<p><i>Gemenskap</i>: Bidandets ena sida, avkallet från "en värld som jag 'i sista hand' inte tar på allvar", och dess andra sida, kärlekens något-mer — hur ska vi förstå, och anropa, denna paradoxala och till synes omöjliga anarkernas gemenskap?</p>
]]></content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>
